MAKALAH PENGEMBANGAN KREATIVITAS DAN
ILMU KEBERBAKATAN
(Pembelajaran Anak Berbakat)

Kelas : 1PA18
Alia Marsa Safitri 10514842
Andita Lydia N 11514098
Dwi Yulianti P 13514332
Fakultas Psikologi
Universitas Gunadarma
ATA 2014/2015
Pembelajaran
Anak Berbakat
A. Pengertian Keterbakatan Menurut Para Ahli
Hagen
dan Hollingworth (dalam
Hawadi 2002) membedakan antara gifted dan talented. Gifted ditujukan pada
individu yang memiliki kemampuan akademik tinggi, sedang talented ditujukan
pada individu dengan kemampuan unggul dibidang seni, musik, dan drama.Cutts
dan Musseley (1957 dalam Hawadi 2002) membedakan antara bright dengan
gifted dan talented. Bright diartikan individu yang mampu menempuh pendidikan
tingkat Sekolah Menengah Atas (kolese) dan lancar dalam karier yang dipilihnya.
Gifted diartikan individu yang memiliki potensi yang lebih tinggi daripada
individu dengan tingkat bright, sedangkan talented menunjuk pada individu yang
memiliki kemampuan tidak lazim (luar biasa dibidang akademis, tanda umum adalah
adanya kemampuan yang tergolong superior).
De haan dan Havighurst (1957 dalam Hawadi 2002)
individu dengan kemampuan tingkat gifted dibedakan menjadi 2 yaitu first order
atau sering disebut extreme gifted, kelompok ini jumlahnya sangat sedikit,
second gifted, kelompok ini jumlahnya lebih banyak.
Coleman (1985
dalam Hawadi 2002) membedakan konsep gifted dengan genius, kosep gifted dan
genius tidak dibedakan. Seorang gifted belum tentu genius, karena kelompok ini
dinilai belum memberikan kontribusi unik pada lingkungannya dalam kurun waktu
tertentu. Seorang genius adalah pasti seorang gifted.
Menurut Feldhusen (1985:16
dalam Hawadi 2002) bahwa genius merujuk pada individu yang memiliki kemampuan
tingkat tinggi dan tercermin dalam prestasi yang bermakna atau luar biasa.
Sedang gifted merujuk pada individu yang memiliki kemampuan superior. Menurut Terman (dalam
Fawzia 2000) anak berbakat adalah anak yang secara global menguasai semua mata
pelajaran dan bahkan berhasil menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi pada
usia yang sangat muda. Anak mudah dilihat dari prestasinya yang luar biasa pada
seluruh bidang. Mereka memiliki keterampilan verbal yang luar biasa sebaik
kemampuan spatial, berhitung maupun logika sehingga memungkinkan untuk
menyelesaikan soal-soal matematiika maupun soal-soal mata pelajaran lain.
Penelitian Csikszentmihalyi dari
Universitas Chicago bahwa anak-anak dengan kemampuan tinggi yang luar biasa
disemua domain, tidak hanya secara akademis tetapi juga dibidang seni rupa,
musik, bahkan atletik, sebetulnya secara sosial tidak padu dengan sebayanya.
Namun walaupun demikian terdapat adanya kecenderungan dari para ahli bahwa
keterbakatan merujuk pada kemampuan intelektual yang tinggi dan tercermin dalam
IQ yang tinggi. Kemampuan yang tinggi tersebut oleh beberapa ahli disebut
gifted dan beberapa ahli lan menyebut genius dan disebut pula superior dan
bright.
1. Ciri-Ciri Anak Berbakat
Ciri-ciri Anak Berbakat
Ciri – ciri anak berbakat dalam bukunya,
Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah, Prof. Utami Munandar
menuliskan indikator keberbakatan sebagai berikut:
a)
Ciri-ciri Intelektual/Belajar:
Mudah menangkap pelajaran, ingatan baik,
perbendaharaan kata luas, penalaran tajam (berpikir logis-kritis, memahami
hubungan sebab-akibat), daya konsentrasi baik (perhatian tak mudah teralihkan),
menguasai banyak bahan tentang berbagai topik, senang dan sering membaca,
ungkapan diri lancar dan jelas, pengamat yang cermat, senang mempelajari kamus
maupun peta dan ensiklopedi.
Cepat memecahkan soal, cepat menemukan
kekeliruan atau kesalahan, cepat menemukan asas dalam suatu uraian, mampu
membaca pada usia lebih muda, daya abstraksi tinggi, selalu sibuk menangani
berbagai hal.
b)
Ciri-ciri Kreativitas:
Dorongan ingin tahunya besar, sering
mengajukan pertanyaan yang baik, memberikan banyak gagasan dan usul terhadap
suatu masalah, bebas dalam menyatakan pendapat, mempunyai rasa keindahan,
menonjol dalam salah satu bidang seni, mempunyai pendapat sendiri dan dapat
mengungkapkannya serta tak mudah terpengaruh orang lain, rasa humor tinggi,
daya imajinasi kuat, keaslian (orisinalitas) tinggi (tampak dalam ungkapan
gagasan, karangan, dan sebagainya.
Dalam pemecahan masalah menggunakan cara-cara
orisinal yang jarang diperlihatkan anak-anak lain), dapat bekerja sendiri,
senang mencoba hal-hal baru, kemampuan mengembangkan atau memerinci suatu
gagasan (kemampuan elaborasi)
c)
Ciri-ciriMotivasi
Tekun menghadapi tugas (dapat bekerja
terus-menerus dalam waktu lama, tak berhenti sebelum selesai), ulet menghadapi
kesulitan (tak lekas putus asa), tak memerlukan dorongan dari luar untuk
berprestasi, ingin mendalami bahan/bidang pengetahuan yang diberikan, selalu
berusaha berprestasi sebaik mungkin (tak cepat puas dengan prestasinya),
menunjukkan minat terhadap macam-macam masalah “orang dewasa” (misalnya
terhadap pembangunan, korupsi, keadilan, dan sebagainya). Senang dan rajin belajar
serta penuh semangat dan cepat bosan dengan tugas-tugas rutin, dapat
mempertahankan pendapat-pendapatnya (jika sudah yakin akan sesuatu, tak mudah
melepaskan hal yang diyakini itu), mengejar tujuan-tujuan jangka panjang (dapat
menunda pemuasan kebutuhan sesaat yang ingin dicapai kemudian), senang mencari
dan memecahkan soal-soal.
Hal ini menunjuk pada semangat dan motivasi
untuk mengerjakan danmenyelesaikan suatu tugas. Suatu pengikatan diri dari
dalam diri.Adapun ciri-ciri keberbakatan yang telah memiliki korelasi yang
signifikandengan tiga aspek tersebut (Balitbang Depdikbud, 1986) sebagai
berikut:Lancar berbahasa (mampu mengutarakan pemikirannya),Memiliki rasa ingin
tahu yang besar terhadap ilmu pengetahuan, Memiliki kemampuan yang tinggi dalam
berpikir logis dan kritis, Mampu belajar atau bekerja secara mandiri, Ulet
menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa), Mempunyai tujuan yang jelas
dalam tiap kegiatan atau perbuatannya, Cermat atau teliti dalam
mengamati, Memiliki kemampuan memikirkan beberapa macam pemecahan masalah, Mempunyai
minat yang luas, Mempunyai daya imajinasi yang tinggi, Belajar dengan
mudah dan cepat, Mapu mengemukakan dan mempertahankan pendapat, Mampu
berkonsentrasi, Tidak memerlukan dorongan (motivasi) dari
luarBentuk-bentuk penyelenggaraan program percepatan belajar,
Ditinjau dari bentuk penyelenggaraan dapat dibedakan menjadi tiga jenis
(Clark, 1983) sebagaiberikut:
1)
Sekolah khususYaitu semua
siswa yang belajar di sekolah ini adalah siswa yang memilikipotensi kecerdasan
dan bakat istimewa
2)
Kelas khususYaitu siswa
yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa belajardalam kelas khusus.
3)
Kelas regular yaitu siswa
yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa tetapberada bersama-sama
dengan siswa lainnya di kelas regular (model inklusi), bentuk penyelenggaraan
pada kelas regular dapat dilakukan dengan model sebagai berikut:a. Kelas
regular dengan kelompok (cluster)
2. Implikasi Dalam Pembelajaran (Teori
Barbe Dan Renzulli)
Menjelaskan dan menerapkan teori anak berbakat
dari Barbie dan Renzulli :
Menurut definisi yang dikemukakan Joseph
Renzulli (1978), anak berbakat memiliki pengertian, “Anak berbakat merupakan
satu interaksi diantara tiga sifat dasar manusia yang menyatu ikatan terdiri
dari kemampuan umum dengan tingkatnya di atas kemampuan rata- rata, komitmen
yang tinggi terhadap tugas dan kreativitas yang tinggi.
High Potential Ability (Kecerdasan Tinggi)
Standard yang ditetapkan untuk anak berbakat oleh Diknas tahun 2003 adalah 140
. Kalau hasil tes menunjukkan IQ anak mencapai 140 ke atas, maka anak itu
otomatis disebut gifted child. Tetapi kemudian muncul pembagian tertentu untuk
anak berbakat dilihat dari IQnya. Keberbakatan ringan (IQ 115 – 129),
keberbakatan sedang (IQ 130 – 144), keberbakatan tinggi (IQ 145 ke atas).
Task Commitment adalah sejauh mana tanggung
jawab dalam meyelesaikan tugas. Tidak hanya tugas dari sekolah tapi juga tugas
di rumah. Task commitment dapat diukur melalui tes tertentu yang hanya boleh
dilakukan oleh psikolog. Task commitment ini mencakup tanggung jawab, motivasi,
keuletan, kepercayaan diri, memiliki tujuan yang jelas sebelum melakukan
sesuatu dan kemandirian.
Kreativitas bisa diartikan sebagai kemampuan
untuk menciptakan hal-hal baru atau kemampuan untuk membuat kombinasi-kombinasi
baru dari yang sudah ada. Kreativitas dapat dinilai dari 4 hal, produk,
pribadi, proses dan pencetus / penghambat. Suatu produk dikatakan kreatif kalau
produk itu baru, berbeda dari yang sudah ada, lebih baik dari yang lain dan
tentu saja berguna. Sifat pribadi kreatif yang lain adalah terbuka pada hal-hal
baru, punya rasa ingin tau yang besar, ulet, mandiri, berani mengambil resiko,
berani tampil beda, percaya diri dan humoris.
Anak berbakat ialah anak yang memiliki
kecakapan dalam mengembangkan gabungan ketiga sifat ini dan mengaplikasikan
dalam setiap tindakan yang bernilai. Anak-anak yang mampu mewujudkan ketiga
sifat itu masyarakat memperoleh kesempatan pendidikan yang luas dan pelayanan
yang berbeda dengan program-program pengajaran yang reguler (Swssing, 1985).
Pengertian lain menyebutkan bahwa anak gifted
adalah anak yang mempunyai potensi unggul di atas potensi yang dimiliki oleh
anak-anak normal. Para ahli dalam bidang anak-anak gifted memiliki pandangan
sama ialah keunggulan lebih bersifat bawaan dari pada manipulasi lingkungan
sesudah anak dilahirkan.
Anak yang memiliki bakat istimewa sering kali
memiliki tahap perkembangan yang tidak serentak. Ia dapat hidup dalam berbagai
usia perkembangan, misalnya: anak berusia tiga tahun, jika sedang bermain ia
terlihat seperti anak seusianya, tetapi jika sedang membaca ia menampilkan
sikap seperti anak berusia 10 tahun, jika mengerjakan soal matematika ia
seperti anak berusia 12 tahun, dan jika berbicara seperti anak berusia lima
tahun.
Perlu dipahami adalah bahwa anak berbakat
umumnya tidak hanya belajar lebih cepat, tetapi juga sering menggunakan cara
yang berbeda dari teman-teman seusianya. Hal ini tidak jarang membuat guru di
sekolah mengalami kewalahan, bahkan sering merasa terganggu dengan anak-anak
seperti itu. Di samping itu anak berbakat istimewa biasanya memiliki kemampuan
menerima informasi dalam jumlah yang besar sekaligus. Jika ia hanya mendapat
sedikit informasi maka ia akan cepat menjadi “kehausan” akan informasi.
A. Implikasi
bagi guru anak berbakat disimpulkan oleh Barbie dan Renzulli (1975) sebagai
berikut:
1)
Guru perlu memahami diri
sendiri, karena anak yang belajar tidak hanya dipengaruhi oleh apa yang
dilakukan guru, tetapi juga bagaimana guru melakukannya.
2)
Guru perlu memiliki
pengertian tentang keterbakatan
3)
Guru hendaknya
mengusahakan suatu lingkungan belajar sesuai dengan perkembangan yang unggul
dari kemampuan-kemampuan anak
4)
Guru memberikan tantangan
daripada tekanan
5)
Guru tidak hanya memperhatikan
produk atau hasil belajar siswa, tetapi lebih-lebih proses belajar.
6)
Guru lebih baik
memberikan umpan balik daripada penilaian harus menyediakan beberapa alternatif
strategi belajar.
7)
Guru hendaknya dapat
menciptakan suasana di dalam kelas yang menunjang rasa harga diri anak serta
dimana anak merasa aman dan berani mengambil resiko dalam menentukan pendapat
dan keputusan.
B. Peran
Orang Tua dalam Memupuk Bakat dan Kreativitas Anak.
Orang tua yang bijaksana dapat membedakan antara memberi perhatian
terlalu banyak atau terlalu sedikit, antara memberi kesempatan kepada anak
untuk mengembangkan bakat dan minatnya dan memberi tekanan untuk berprestasi
semaksimal mungkin. Ada beberapa hal yang memudahkan orang tua agar lebih mantap dalam
menghadapi dan membina anak berbakat (Ginsberg dan Harrison, 1977; Vernon,
1977) diantaranya adalah:
1)
anak berbakat itu tetap
anak dengan kebutuhan seorang anak. Jika ada anak-anak lain dalam keluarga,
janganlah membandingkan anak berbakat dengan kakak-adiknya atau sebaliknya.
2)
Sempatkan diri untuk
mendengarkan dan menjawab pertanyaan-pertanyaannya
3)
Berilah kesempatan
seluas-luasnya untuk memuaskan rasa ingin tahunnya dengan menjajaki macam-macam
bidang, namun jangan memaksakan minat-minat tertentu.
4)
Berilah kesempatan jika
anak ingin mendalami suatu bidang, karena belum tentu kesempatan itu ada di
sekolah.
5)
Kerjasama Antara
Keluarga, Sekolah dan Masyarakat
Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama
keluarga (orang tua), sekolah, dan masyarakat. Keluarga dan sekolah dapat
bersama-sama mengusahakan pelayanan pendidikan bagi anak berbakat, misalnya
dalam memandu dan memupuk minat anak. Tokoh-tokoh dalam masyarakat dapat
menjadi “tutor” untuk anak berbakat yang mempunyai minat yang sama.
3. Kurikulum Berdiferensiasi Untuk
Anak Berbakat
A.
Pengertian kurikulum berdiferensiasi dan kurikulum
umum
Kurikulum merupakan metode menyusun kegiatan-kegiatan belajar mengajar
untuk menghasilkan perkembangan kognitif, efektif, dan psikomotorik anak.
Menurut Sato (1982) kurikulum mencakup semua pengalaman yang
diperoleh di sekolah, di rumah dan dalam masyarakat, dan yang
membantunya mewujudkan potensinya. Berbeda dengan kurikulum umum yang bertujuan
untuk dapat memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anak pada umumnya, maka
kurikulum berdiferensiasi merupakan jawaban terhadap perbedaan-perbedan dalam
minat dan kemampuan anak didik. Sehingga, dengan kurikulum berdiferensiasi
setiap anak memiliki peluang besar untuk terus meningkatkan kemampuannya tanpa
harus terikat oleh satu kurikulum umum yang menyamaratakan kemampuan seluruh
anak.
Istilah diferensiasi dalam pengertian kurikulum menunjuk pada kurikulum
yang tidak berlaku umum, melainkan dirancang khusus untuk kebutuhan tumbuh
kembang bakat tertentu. Kurikulum berdiferensiasi (differ-rentiation
instruction) adalah kurikulum pembelajaran yang memperhatikan
perbedaan-perbedaan individual anak. Walaupun model pengajaran ini
memperhatikan atau berorientasi pada perbedaan-perbedaan individual anak, namun
tidak berarti pengajaran harus berdasarkan prinsip satu orang guru dengan satu
orang murid. Berbeda dengan kurikulum reguler yang berlaku bagi semua ,
kurikulum berdiferensiasi bertujuan untuk menampung pendidikan berbagai
kelompok belajar, termasuk kelompok berbakat. Melalui program
khusus, berbakat akan memperoleh pengayaan dari materi pelajaran,
proses belajar dan produk belajar.
Meskipun demikian, pada dasarnya kurikulum berdiferensiasi
tetap bertitik tolak pada kurikulum umum yang menjadi dasar bagi semua anak
didik. Kurikulum berdiferensiasi juga memberikan pengalaman belajar berupa
dasar-dasar keterampilan, pengetahuan, pemahaman, serta pembentukan sikap dan
nilai yang memungkinkan anak didik berfungsi sesuai dengan tuntutan masyarakat
atau jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Berdasarkan penjelasan di atas, Semiawan (1983) menyatakan bahwa
bakat-bakat khusus baru dapat dikembangkan atas dasar kurikulum ini. Di samping
itu, untuk dapat mewujudkan bakat yang khusus diperlukan juga pengalaman
belajar yang khusus. Sehingga, pendidik juga dapat mengetahui keberbakatan anak
dan memantaunya sesuai dengan kurikulum yang telah dideferensiasikan.
B.
Hakekat pembelajaran differensiasi
Penanganan anak-anak berbakat atau cerdas
dengan program pengayaan dan percepatan penuh banyak memiliki
kelemahan-kelemahan yang merugikan anak itu sendiri, maka telah dikembangkan
kurikulum alternative yaitu berdiferensiasi (differentiated instruction ).
Pendekatan ini menghendaki agar kebutuhan berbakat dilayani di dalam
kelas regular. Program ini menawarkan serangkaian pilihan belajar
pada berbakat dengan tujuan menggali dan mengarahkan pengajaran pada
tingkat kesiapan, minat, dan profil belajar yang berbeda-beda.Kurikulum
berdiferensiasi sangat penting ditekankan untuk anak berbakat. Kurikulum ini
memiliki tiga level kurikulum yaitu:
1)
Prescribed Curriculum and
Instruction
Level pertama, prescribed curriculum and instruction adalah
kurikulum yang dikembangkan oleh standard lokal dan tidak menyediakan
kesempatan untuk strategi belajar yang cocok untuk berbakat.
2)
Teacher-Differentiated
Curriculum
Pada level kedua, teacher-differentiated curriculum, guru
memodifikasi kurikulum yang telah ada menjadi kurikulum yang menarik dan
menantang untuk berbakat. Disini, murid tidak hanya dipandang sebagai
seorang ‘murid’ saja, tetapi murid adalah pembelajar aktif.
3)
Learner-Differentiated
Curriculum.
Level
ketiga, learner-differentiated curriculum, adalah level tertinggi dimana
murid berbakat dianggap sebagai “producers of knowledge”, bukan hanya
“consumers of knowledge”. Level ini mendukung perkembangan self-discovery,
self-esteem, kreativitas, dan otonomi. Selain perkembangan kognitif, pada level
ini jug mengembangkan faktor sosial dan emosional murid.
Dalam kurikulum berdiferensiasi ini, guru
menggunakan beberapa kegiatan, yaitu:
a)
Beragam cara
agar dapat mengeksplorasi kurikulum
Dalam kaitan dengan
pem-belajaran berdiferensiasi, maka para memiliki kebebasan yang
luas untuk mengeksplor kurikulum yang dibutuhkan dan sesuai dengan perkembangan
fisik dan mentalnya. Mereka akan memilih dan memilah kurikulum (muatan lokal)
yang sesuai dengan kondisinya.
b)
Beragam kegiatan atau
proses yang masuk akal sehingga dapat mengerti dan memiliki
informasi dan ide
Proses belajar mengajar harus dapat mengembangkan cara
belajar untuk mendapatkan, menge-lola, menggunakan dan meng-komunikasikan
informasi yang di-perlukan. harus terlibat secara aktif dalam proses
tersebut baik secara individual ataupun kelompok. Keaktifan itu dapat terlihat
dari (Suryosubroto, 1996:72) :
·
berbuat sesuatu untuk
memahami materi pelajaran dengan penuh keyakinan;
·
mempelajari, memahami,
dan menemukan sendiri bagaimana memperoleh situasi pengetahuan;
·
merasakan sendiri
bagaimana tugas-tugas yang diberikan oleh guru kepadanya;
·
belajar dalam kelompok;
·
mencoba akan sendiri
konsep-konsep tertentu;
·
mengkomunikasikan hasil
pikiran, penemuan dan penghayatan nilai-nilai secara lisan atau penampilan.
c)
Beragam pilihan
dimana dapat mendemonstrasikan apa yang telah mereka pelajari.
Proses pembelajaran
berdiferensiasi harus memberikan ruang yang luas kepada anak didik untuk
mendemostrasikan apa- apa yang telah mereka pelajari. Hal ini sangat bermanfaat
untuk: Pertama, anak didik belajar menyampaikan atau mengkomunikasikan temuan
dan informasi yang dimilikinya; Kedua, anak didik belajar mengapresiasi karya
atau infomasi yang disampaikan orang lain (teman); Ketiga, anak didik belajar
untuk mendapat masukan, kritikan dan sanggahan terhadap penemuan atau informasi
yang disampikan kepada orang lain.
C.
Karakteristik Umum Kurikulum Berdiferensiasi
Pengajaran berdiferensiasi memiliki 4 (empat)
karakteristik umum, yaitu:
1)
Pengajaran berfokus pada
konsep dan prinsip pokok materi pelajaran.
Dalam proses pembelajaran berdiferensiasi, pengajaran harus berfokus
pada konsep atau pokok materi pelajaran sehingga semua dapat
mengeksplorasi konsep-konsep pokok bahan ajar. yang agak lambat
(struggling learners) bisa memahami dan menggunakan ide- ide dari konsep-konsep
yang diajarkan. Sedangkan bagi para berbakat memperluas pemahaman
dan aplikasi konsep pokok tersebut.
2)
Evaluasi kesiapan dan
perkembangan belajar diakomodasi ke dalam kurikulum.
Kesiapan dan perkembangan belajar harus dievaluasi untuk
dijadikan sebagai dasar keputusan penentuan materi serta strategi pembelajaran
yang akan diterapkan. Kapasitas belajar seseorang berbeda dengan orang lain.
Oleh karena itu, tidak semua memerlukan satu kegiatan atau bagian
tertentu dari proses pembelajaran secara sama. Guru perlu terus menerus
mengevaluasi kesiapan dan minat dengan memberikan dukungan
bila membutuhkan interaksi dan bimbingan tambahan, serta memperluas
eksplorasi terutama bagi mereka yang sudah siap untuk mendapatkan
pengalaman belajar yang lebih menantang.
3)
Ada
pengelompokan secara fleksibel.
Dalam pengajaran berdiferen-siasi, berbakat sering belajar
dengan banyak pola, seperti belajar sendiri-sendiri, belajar berpasangan maupun
belajar dalam kelompok. Oleh karena itu, pada saat-saat
tertentu dapat diberi kebebas-an untuk memilih materi pelajaran
dengan media pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan mereka masing-masing.
Strategi ini memungkinkan untuk belajar lebih cepat bagi mereka yang
mampu, sedangkan bagi mereka yang kurang, akan belajar sesuai dengan batas
kemampuannya. Contoh untuk strategi belajar-mengajar berdasarkan
kecepatan adalah pengajaran modul.
4)
Menjadi penjelajah aktif
(active explorer).
Prinsip belajar yang relevan adalah belajar bagaimana belajar (learning
how to learn ). Artinya, dikelas target pembelajaran bukan sekadar penguasaan
materi, melainkan harus belajar juga bagaimana belajar (secara
mandiri) untuk hal-hal lain. Ini bisa terjadi apabila dalam kegiatan
pembelajaran telah di biasakan untuk berpikir mandiri, berani
berpendapat, dan berani bereksperimen, sehingga tidak merasa
terkekang dan potensi kreativitasnya dapat tumbuh dengan sempurna. Tugas guru
adalah membimbing eksplorasi tersebut, karena beragam kegiatan dapat terjadi
secara simultan di dalam kelas, guru akan berperan sebagai pembimbing dan
fasilitator, dan bukannya sebagai dispenser informasi.
D.
Prinsip –prinsip pengajaran berdifferensiasi
1)
Prinsip Individualitas
Perbedaan individual merupakan salah satu masalah utama dalam proses
belajar-mengajar. Ketidakmampuan guru melihat perbedaan-perbedaan individual
anak dalam kelas yang dihadapi akan menyebabkan kegagalan dalam memelihara dan
membina interaksi edukatif secara efektif.
Pengajaran individual bukanlah semata-mata pengajaran yang hanya
ditujukan kepada seorang raja, melainkan dapat saja ditujukan kepada
sekelompok atau kelas, namun dengan mengakui dan melayani
perbedaan-perbedaan sehingga pengajaran itu memungkinkan
berkembangnya potensi masing-masing secara optimal.
2)
Prinsip Belajar Tuntas
Belajar tuntas (mastery learning) adalah suatu proses pembelajaran yang
mengakui bahwa semua anak memiliki kemampuan yang sama dan bisa belajar apa
saja, hanya waktu yang diperlukan untuk mencapai kemampuan tertentu
berbeda. tidak diperkenankan mengerjakan pekerjaan berikutnya,
sebelum mampu menyelesaikan pekerjaan dengan prosedur yang benar, dan hasil
yang baik.
3)
Prinsip Motivasi
Motif adalah daya dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk
melakukan sesuatu. Sedangkan motivasi adalah suatu proses untuk menggiatkan
motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan
mencapai tujuan. Guru memiliki peran yang besar untuk menumbuhkan motivasi
eksternal, diantaranya: Pertama, menggunakan cara atau metode dan media
mengajar yang bervariasi; Kedua , memilih bahan yang menarik minat dan
dibutuhkan ; Ketiga, memberikan sasaran antara; Keempat , memberikan kesempatan
sukses; Kelima, menciptakan suasana belajar yang menyenangkan; dan Keenam,
menciptakan persaingan yang sehat.
4)
Prinsip Latar/Konteks
Latar atau konteks mengandung arti bahwa pembelajaran harus dikaitkan
dengan situasi dunia nyata , sehingga mendorong membuat hubungan
antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka
sebagai individu maupun anggota keluarga, masyarakat, dan bangsa. Dengan konsep
ini, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi.
5)
Prinsip Minat dan
Kebutuhan
Minat merupakan suatu sifat yang relatif menetap pada diri seseorang,
sedangkan kebutuhan adalah sesuatu yang dibutuhkan oleh seseorang. Oleh karena
itu, minat dan kebutuhan merupakan utama yang menentukan derajat keaktifan
belajar . Dengan demikian dalam rangka meningkatkan
aktivitas dalam belajar, maka materi pembelajaran dan cara
penyampaiannya pun harus disesuaikan dengan minat dan kebutuhan tersebut.
6)
Prinsip Penilaian
(Assessment)
Penilaian (assessment) dibagi menjadi dua katagori yaitu: Pertama, informal
assessment , biasanya dilakukan oleh guru melalui observasi berbagai
keterampilan, dan mempelajari laporan, maupun melalui tes yang dibuat guru
untuk mengetahui tingkat penguasaan pelajaran yang telah diajarkan; Kedua,
formal assessment yaitu penilaian lewat tes standar seperti tes hasil belajar,
tes inteligensi, wawancara dengan orang tua, tes bahasa, kepribadian, kreatif,
kemampuan fisik, minat dan sebagainya.
7)
Prinsip Terpadu
Artinya penyelenggaraan pembelajaran anak berbakat dikembangkan dan
dilaksanakan di sekolah biasa. Anak dengan berbagai perbedaan belajar di ruang
kelas yang sama.
8)
Strategi Pembelajaran
Berdiferensiasi
Dalam mendiferensiasikan pengajaran, guru bisa melakukan modifikasi
terhadap lima unsur kegiatan belajar, yaitu materi pelajaran, proses, produk,
lingkungan dan evaluasi.
·
Materi pelajaran
Materi pelajaran dapat dimodifikasi melalui berbagai kegiatan pembelajaran,
yaitu:
-
Pemadatan materi
pelajaran
-
Studi intradisipliner
-
Kajian mandala,
·
Proses
Banyak kegiatan yang bisa dilakukan oleh guru untuk memodifikasi proses
pengajaran dan pembelajaran, antara lain dengan:
-
Mengembangkan kecakapan
berpikir.
-
Hubungan dalam dan lintas
disiplin
-
Studi mandiri
·
Produk
Dalam memodifikasi produk, guru dapat
mendorong untuk mendemonstrasikan apa yang telah dipelajari atau
dikerjakan ke dalam beragam format yang mencerminkan pengetahuan maupun
kemampuan untuk memanipulasi ide. Misalnya daripada meminta untuk
menambah jumlah halaman laporan dari suatu bab, guru bisa
meminta untuk mensintesis pengetahuan yang telah diperoleh.
-
Lingkungan Belajar
Lingkungan dan individu
terjalin proses interaksi yang saling mempengaruhi satu sama lainnya. Individu
seringkali terbentuk oleh lingkungan, begitu juga sebaliknya lingkungan
dibentuk oleh individu (manusia). Pendayagunaan lingkungan sekitar dalam proses
pembelajaran dapat dilaksanakan dengan berbagai cara, yakni dengan cara membawa
lingkungan ke dalam kelas, atau membawa ke masyarakat.
-
Evaluasi
Memodifikasi evaluasi berarti menentukan suatu metode untuk
mendokumentasikan penguasaan materi pelajaran pada siswa berbakat. Guru harus
memastikan bahwa berbakat memiliki kesempatan untuk
mendemonstrasikan penguasaan materi pelajaran sebelumnya ketika akan
mengajarkan pokok bahasan, topik atau unit baru mata pelajaran.
9)
Cara pengembangan kurikulum
berdiferensiasi
Menurut Kaplan (1977), perkembangan kurikulum
dewasa ini menekankan penggunaan kurikulum secara fleksibel sesuai dengan
kebutuhan guru dan yang memungkinkan keragaman cara untuk mencapai
sasaran belajar. Bahkan dalam kurikulum semacam ini tidak tertutup kemungkinan
bahwa pada saat-saat tertentu merumuskan sendiri sasaran-sasaran
belajarnya. Suatu kurikulum dapat berdiferensiasi melalui materi (konten atau
muatan), proses, dan produk belajar yang lebih maju dan majemuk, serta dapat
dirancang dengan cara sebagai berikut.
·
Kurikulum
berdiriferensiasi menyesuaikan dengan kurikulum umum
-
Menambah hal-hal baru
yang menarik dan menantang bagi anak berbakat. Misalnya dengan menambahkan
muatan tugas yang dianggap menantang kemampuan yang dimiliki anak berbakat.
-
Mengubah bagian-bagian
tertentu yang kurang sesuai. Karena anak berbakat memiliki kemampuan
memahami pelajaran dan pengetahuan yang melampaui anak pada umumnya, biasanya
pemberian materi kepada anak berbakt lebih menyesuaika kemampuan anak. Sehingga,
anada beberapa bagian yang diterima anak umum di kelas tetapi tidak diterima
oleh anak berbakat.
-
Mengurangi
kegiatan-kegiatan yang terlalu rutin. Seperti yang telah dijelaskan
sebelumnya, anak berbakat memiliki tingkat kemampuan memahami pelajaran yang lebih
tinggi dibandingkan anak umum, jadi beberapa kegiatan atau pelajaran yang dapat
dikerjakan sendiri dan tanpa bantuan berarti dari pendidik sebaiknya dikurangi.
-
Meluaskan dan mendalami
materi. Karena sifat yang cenderung kurang puas dan mendetail, pemberian materi
pembelajaran kepada anak berbakat sebaiknya lebih diluaskan dan mendalam
·
Kurikulum Berdiferensiasi
dengan Menggunakan Kurikulum yang Baru atau Khusus
Cara kedua ini adalah
dengan menggunakan kurikulum yang benar-benar berbeda dengan anak umum dan
disesuaikan dengan keberbakatan anak. Untuk menyusun sebuah kurikulum, pendidik
harus mengetahui beberapa asas kurikulum sebagai berikut:
-
Berkaitan dengan mata
pelajaran. Yaitu, kegiatan bekajar dikaitkan dengan mata pelajaran atau
materi tertentu. Contohnya, ketika anak belajar bagian-bagian serangga, anak
dapat mencari sendiri serangga-serangga yang akan dipelajarinya di lingkungan
sekolah.
-
Berorientasi dengan
proses. Maksudnya, kegiatan belajar mengajar menekankan perkembangan
keterampilan dan proses berpikir daripada hanya materi. Contohnya, ketika anak
sudah mengenal bagian-bagian serangga, anak dapat menganalogikan bagian-bagian
tersebut dengan bagian-bagian kendaraan.
-
Berpusat pada kegiatan
aktif. Yaitu kegiatan belajar sepenuhnya mengikutsertakan anak secara
aktif. Sehingga, dapat menghidupkan suasana keilmuan yang penuh akan diskusi
dan saling bertukar pikiran.
-
Penerapan tugas berakhir
terbuka.Dengan asas ini tidak ada istilah “benar” dan “salah” dalam hasil tugas
, tetapi seluruhnya berdasarkan pengalaman setiap anak.
-
Memungkinkan anak
memilih. Asas ini memberikan peluang kepada setiap anak sesuai dengan
kebutuhan, minat, dan kemampuan masing-masing. Sehingga, sekolah seharusnya
menyediakan sarana atas minat dan bakat anak.
E.
Perbedaan penerapan kurikulum differensiasi dengan
kurikulum umum
1.
Konten. Muatan atau
materi yang diberikan kepada anak berbekat berbeda-beda sesuai dengan minat dan
kemampuan anak.
2.
Proses. Proses
belajar anak berbakat, entah itu waktu maupun caranya, dibedakan dengan anak
umumnya sesuai dengan tingkat kemampuan anak.
3.
Produk. Dalam hal
penugasan, anak berbakat diberikan beban produk yang lebuh rumit dan kompleks
daripada anak umum. Produk belajar itu sendiri dapat berupa lisan, tulisan,
ataupun benda
DAFTAR PUSTAKA
Betts, George (2004) “Fostering Autonomous Learners Through
Levels of Differentiation,” Roeper Review vol.24: 190-191.
Mukti, Abdul dan Sayekti, Adjie, (2003), Gerbang; Majalah
Pendidikan, 4, 36 -38.
Suryosubroto, B., (1997), Proses Belajar Mengajar, Jakarta,
Rineka Cipta.
Tomlinson, C. A., (1995), Differen-tiating Instruction for Advanced
Learners in the Mixed Ability Middle School Classroom. ERIC Claring house on
Disabilities and Gifted Education. [Article published online]. Retrieved
December 7, 2001 from the http://www.ericec.org/digests/e
536.html