TEORI – TEORI MENGENAI KREATIVITAS
Teori mengenai
kreativitas meliputi :
1.
Motivasi Intrinsik dari Kreativitas
Setiap individu
memiliki kecenderungan atau dorongan untuk dapat mewujudkan potensi dan bakat yang
dimilikinya, mewujudkan
dirinya, dorongan berkembang menjadi lebih matang, dorongan mengungkapkan dan mengaktifkan
semua kapasitasnya yang sering dikenal dengan
mengaktualisasikan dirinya secara nyata. Motivasi intrinsik
adalah motivasi yang berasal dari dalam individu. Artinya, seseorang melakukan
tindakan atau perilaku tidak berasal dari motif-motif atau
dorongan-dorongan yang berasal dari luar diri. Motivasi intrinsik
merupakan motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu
dirangsang dari luar karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk
melakukan sesuatu. Motivasi Intrinsik juga dikatakan sebagai motivasi
internal untuk melakukan sesuatu demi sesuatu itu sendiri (tujuan itu sendiri).
Kreativitas setiap individu, dalam
organisasi sebagai ilustrasi, ditentukan oleh tiga komponen yaitu keahlian,
keterampilan berpikir kreatif, dan motivasi. Keterampilan berpikir kreatif
menentukan seberapa fleksibel dan imajinatif orang-orang dalam organisasi saat
menghadapi masalah. Niat dari dalam diri untuk memecahkan masalah yang
ada, biasanya justru membawa pada solusi-solusi yang lebih kreatif. Ketimbang
misalnya bila motivasi memecahkan masalah itu muncul atau ada karena ingin
memperoleh imbalan finansial. Komponen motivasi ini disebut motivasi intrinsik.
Ini merupakan salah satu motivasi yang dapat dengan cepat dipengaruhi
keberadaannya oleh kondisi lingkungan kerja.
Berbeda dari motivasi ekstrinsik, motivasi
intrinsik berkaitan dengan keinginan dan minat dari dalam diri untuk melakukan
sesuatu (internal desire) yang mulia. Orang akan lebih kreatif bila ia
merasa termotivasi, utamanya oleh karena minat, kepuasan, dan tantangan dari
pekerjaan itu sendiri. Jadi, termotivasi bukan karena tekanan-tekanan
eksternal, seperti uang atau kendali ketat sang atasan. Mumford
dan Gastafson (1988 dalam Ng Aik Kwang, 2001:4) seorang yang kreatif
terbuka untuk menerima pengalaman hidup, memiliki minat dalam hidup dan
tertarik untuk mendalami ide-ide yang kompleks, sehingga dapat mengembangkan
dan menggunakan model mental yang kompleks untuk memecahkan masalah dalam dunia
nyata. Walaupun kerja kreatif telah dijadikan pertimbangan, namun model mental
yang kompleks belum mencukupi. Karena Kreativitas sebagai ide yang abstrak dan
tidak dapat diukur (untested) harus diterjemahkan menjadi tindakan yang
konkret. Kreativitas dengan menggunakan teknik penilaian secara konsensus
(consensual assesment technique) (Ng Aik Kwang, 2011:5).
Ambile menyatakan suatu produk atau respon disebut kreatif apabila beberapa
penelitian yang sesuai secara bebas menyetujui bahwa itu disebut kreatif.
Peneliti yang sesuai dalam kompetensi melukis, arsitek dalam kompetensi disain
dan penulis (writers) dalam kompotensi mengarang. Dengan menggunakan
teknik penilaian konsensus terhadap Kreativitas seperti tersebut di atas,
Ambile dan teman-teman telah melakukan berbagai studi empiris yang menekankan
motivasi intrinsik, yang menyenangi apa yang sedang ia lakukan, dengan tingkah
laku kreatif. Peran penting dari motivasi instrinsik digambarkan oleh Amabile
(dalam Ng Aik Kwang, 2001:6) dalam model komponen Kreativitas yang terdiri dari
tiga komponen penting:
a. Keterampilan
dalam ranah yang relevan (domain-relevant skill) yang mengacu pada
pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang berkaitan dengan ranah khusus
dimana seorang yang kreatif tertarik.
b. Keterampilan
yang relevan dengan Kreativitas (creativity-relevant skill) yang mengacu
pada kemampuan kognisi, seperti kemampuan berpikiran divergen, sebaik seperti
ciri-ciri kepribadian seperti keterbukaan terhadap pengalaman, kecondongan (penchant)
mengambil resiko, toleransi yang besar terhadap kebermaknaan ganda (ambiquitas).
c. Terakhir
adalah motivasi intrinsik yang mengacu pada keinginan untuk melakukan suatu
tugas yang masih dipertanyakan. Tanpa adanya motivasi instrinsik ini, ia akan mengahadapi
kesulitan kesulitan untuk tetap pada jalurnya atau pendapatnya, terutama dengan
banyaknya hambatan yang ia hadapi, misalnya hadiah eksternal yang mempengaruhi
untuk meninggalkan idenya.
Pendekatan sistem, ketiga pendekatan yang
telah diuraikan di atas masih memerlukan adanya aspek kunci, karena Kreativitas
tidak ada akan terjadi dalam keadaan sosial yang hampa (vacum).
Sebaliknya justru terdapat hubungan yang erat antara seseorang yang kreatif
dengan dunia sosialnya, dimana ia dapat menbentuk aktivitas kreatifnya.
2.
Kondisi Eksternal Yang Mendorong Perilaku
Kreatif
Kreativitas dapat berkembang dalam suasana
non-otoriter, yang memungkinkan individu untuk berpikir dan menyatakan diri
secara bebas, dan di mana sumber dari pertimbangan evaluatif adalah internal
(Rogers, dalam Vernon, 1982).
Carl Rogers (dalam Vernon, 1982) menegaskan bahwa satu persyaratan utama bagi
berkembangannya kreativitas suatu bangsa adalah adanya kebebasan. Kebebasan
untuk berpikir, menyatakan pikiran, mencipta, yang dapat kita ringkaskan pada
moyangnya segala rupa kebebasan yang menjadi hak asasi manusia, yakni adanya
kebebasan melakukan pilihan (freedom of choice).
Menurut pengalaman Rogers dalam
psikoterapi, penciptaan kondisi keamanan dan kebebasan psikologis
memungkinkan timbulnya kreatifitas yang konstruktif.
1) Keamanan
Psikologis
·
Menerima individu sebagaimana adanya
dengan segala kelebihan dan keterbatasannya (memberi kepercayaan, yang dapat
memberi efek menghayati suasana keamanan).
·
Mengusahakan suasana yang ada didalamnya
evaluasi eksternal tidak ada (atau sekurang-kurangnya tidak bersifat atau punya
mempunyai efek mengancam).
·
Memberikan pengertian secara empatis
(dapat ikut menghayati) perasaan, pemikiran, tindakan serta dapat melihat sudut
pandang, dan tetap menerimanya, memberi rasa aman.
2) Kebebasan
Psikologis
Jika setiap orang memiliki kesempatan
untuk bebas mengeksperiskan secara simbolis pikiran-pikiran atau
perasaan-perasaannya, permissiveness ini memberikan pada
seseorang kebebasan dalam berpikir atau merasakan sesuai dengan apa yang ada
dalam dirinya. Mengekspresikan tindakan konkret perasaan-perasaannya (misalnya
dengan memukul) tidak selalu dimungkinkan, karena hidup dalam masyarakat selalu
ada batas-batasnya, tetapi eksperesi secara simbolis hendaknya dimungkinkan.
Menurut Simpson dalam Vernon (1982 dalam Utami Munandar 1999:28) dorongan internal merupakan: “the
intiative that one manifest by his power to break away from the usual sequence
pf thought”. Insitiatif yang dimanisfestasikan dengan dorongan untuk keluar
dari seluruh pemikiran biasa. Mengenai dorongan dari lingkungan, ada lingkungan
yang tidak menghargai imajinasi atau fantasi dan menekankan Kreativitas dan
inovasi, kreativitas juga tidak akam berkembang dalam budaya yang terlalu menekan
konformitas dan tradisi yang kurang terbuka terhadap perubahan atau
perkembangan baru (Utami Munandar 1999:28-29).
Teori Yang Melandasi Proses Kreatif
Meliputi :
1)
Teori Wallas
Teori wallas dikemukakan tahun 1926 dalam
bukunya “the art of thought” (Piirto, 1992), yang menyatakan bahwa proses
kreatif meliputi empat tahap, yaitu persiapan (1), inkubasi (2),
iluminasi (3), dan verifikasi (4).
1) Sesorang
mempersiapkan diri untuk memecahkan masalah dengan cara berfikir, mencari
jawaban, bertanya kepada orang dan sebagainya.
2) Tahap dimana
individu seakan-akan melepaskan diri untuk sementara dari masalah tersebut,
dalam arti bahwa ia tidak memikirkan masalahnya secara sadar, tetapi
“mengeramnya” dalam alam pra-sadar.
3) Tahap timbulnya
“insight” atau Aha-Erlebnis” saat timbulnya inspirasi atau
gagasan baru, beserta proses-proses psikologis yang mengawali dan mengikuti
munculnya inspirasi/gagasan baru.
4) Tahap dimana ide
atau kreasi baru tersebut harus diuji terhadap realitas. Disini diperlukan
pemikiran kritis dan konvergen. Dengan kata lain, proses divergensi (pemikiran
kreatif) harus diikuti oleh proses konvergensi (pemikiran kritis).
Cropley (1994) menunjukkan hubungan antara
tahap-tahap proses kreatif dari Wallas (persiapan, inkubasi, iluminasi,
verifikasi) dan produk yang psikologis yang berinteraksi : hasil berpikir
konvergen , memperoleh pengetahuan dan ketrampilan, jika dihadapkan dengan
situasi yang menuntut tindakan yaitu pemecahan masalah individu
menggabungkan unsur-unsur mental sampai timbul “konfigurasi”. Konfigurasi dapat
berupa gagasan, model, tindakan cara menyusun kata, melodi atau bentuk.
2)
Teori tentang Belahan Otak Kanan-Kiri
Pendekatan psiko-biologis kreativitas
adalah pembahasan yang mencoba menjelaskan kreativitas dengan berdasarkan
fungsi biologis organ tubuh manusia khususnya fungsi otak. Otak besar (cortex)
terbagi atas dua belahan yang dihubungkan oleh sebuah bundelan serabut yang
saling menghubungkan (interconnecting) yang disebut sebagai corpus
callosum. Belahan kanan korteks berfungsi untuk mengontrol tubuh bagian
kiri, dan belahan kiri korteks mengontrol tubuh bagian kanan.
Belahan kiri dan kanan otak menanggapi
jenis pengalaman yang berbeda dan menanggapinya secara khas. Wittrock (1980
dalam Clark, 1988) menyatakan bahwa kedua belahan otak boleh berbeda satu sama
lain karena strategi pengodean yang digunakan dan bukan karena jenis informasi
yang dikodekan. Menurut teori ini, belahan otak kiri bertanggung jawab bagi
pemikian linear, sequential, analytic dan rational. Sedangkan
pemikiran-pemikiran metaphoric, spatial, holistic merupakan tanggang jawab
belahan otak kanan.
Bagan Proses Pimikiran Otak
Otak
Kiri
|
Otak
Kanan
|
· Vertikal
· Kritis
· Strategis
· Analistis
|
· Lateral
· Hasil
· Kreatif
|
Keterangan:
·
Berpikir Vertikal. Suatu proses bergerak
selangkah demi selangkah menuju tujuan Anda, seolah-olah Anda sedang menaiki
tangga.
·
Berpikir Lateral. Melihat permasalahan
Anda dari beberapa sudut baru, seolah-olah melompat dari satu tangga ke tangga
lainnya.
·
Berpikir Kritis. Berlatih atau memasukkan
penilaian atau evaluasi yang cermat, seperti menilai kelayakan suatu gagasan
atau produk.
·
Berpikir Analitis. Suatu proses memecahkan
masalah atau gagasan Anda menjadi bagian-bagian. Menguji setiap
bagian untuk melihat bagaimana bagian tersebut saling cocok satu sama lain, dan
mengeksplorasi bagaimana bagian-bagian ini dapat dikombinasikan kembali dengan
cara-cara baru.
·
Berpikir Strategis. Mengembangkan strategi
khusus untuk perencanaan dan arah operasi-operasi skala besar dengan melihat
proyek itu dari semua sudut yang mungkin.
·
Berpikir tentang Hasil. Meninjau tugas
dari perspektif solusi yang dikehendaki.
·
Berpikir Kreatif. Berpikir kreatif adalah
pemecahan masalah dengan menggunakan kombinasi dari semua proses.
Corteks dengan Corpus Callosum
Sumber: Clark (1988) : Growing up gifted
Perlu diingat bahwa kedua belahan otak
kanan dan kiri berfungsi saling melengkapi, bekerja secara kooperatif dalam
memproses informasi (Clark, 1988). Sedangkan dikotomi mental sebagai tercemin
dalam uraian fungsi belahan otak kanan dan belahan otak kiri oleh Springer,
S.P dan Deuthsch, G. (1981 dalam Utami Munandar 1999)
Tabel dikotomi otak :
No
|
Belahan Otak Kiri
|
Belahan Otak kanan
|
1
|
Intelek
|
Intuisi
|
2
|
Kovergen
|
Divergen
|
3
|
Intelektual
|
Emosional
|
4
|
Rasional
|
Mataforik, intuitif
|
5
|
Verbal
|
Non verbal
|
6
|
Horizontal
|
Vertikal
|
7
|
Kongkret
|
Abstrak
|
8
|
Realistis
|
Impulsif
|
9
|
Diarahkan
|
Bebas
|
10
|
Diferensial
|
Eksistensial
|
11
|
Sekuensial
|
Multipel
|
12
|
Historikal
|
Tanpa batas waktu
|
13
|
Analisis
|
Sintesis, holistik
|
14
|
Eksplisit
|
Implisit
|
15
|
Objektif
|
Subjektif
|
16
|
Suksesif
|
Simultan
|
Sumber: Springer, S.P. dan Deutch, G. 1981
(dalam Utami Munandar 199)
Dari pandangan Wittrock (1980) dan Spinger
dan Deutch (1981) jelaslah bahwa kreativitas merupakan fungsi belahan otak
kanan, tercermin dari fungsi divergen, metaforik, intuitif, sintesis, holistik
yang semua fungsi tersebut merupakan fungsi kreativitas.
Otak dapat distimulus agar memiliki
rangsang yang baik. Jika otak memiliki rangsang yang baik, maka tidak diragukan
lagi kinerjanya. Otak kiri memiliki fungsi atau peranan yang lebih dibanding otak
kanan ketika kita sedang berpikir, tentang intelegensi seseorang, dan
rasionalitas, sedangkan otak kanan manusia memiliki kecenderungan dalam
keindahan, seni, dan kegiatan non verbal.
Kesimpulan
Kreativitas lebih bersifat eksplorasi atau
pengembangan pemikiran yang bersifat umum tentang apa saja dan lebih tertumpu
kepada individu atau organisasi yang menggalinya atau mengembangkannya. Terlepas
dari kenyataan bahwa daya kreativitas tentu
saja sangat terkait dengan potensi genetik yang diperoleh seseorang dari
orangtuanya. Lingkungan juga mempunyai peranan besar. Tanpa rangsangan yang
tepat, kreativitas anak menjadi kurang maksimal. Mengapa tidak maksimal? Karena
di masa kini, daya kreativitas tertinggi menjadi acuan kesuksesan. Seperti yang
dikatakan (Selo Soemardjan 1983) Timbul dan tumbuhnya kreativitas dan
selanjutnya berkembangnya suatu kresi yang diciptakan oleh seseorang individu
tidak dapat luput dari pengaruh kebudayaan serta pengaruh masyarakat tempat
individu itu hidup dan bekerja.
Banyak motivasi internal untuk melakukan
sesuatu demi sesuatu tujuan. Sejak anak lahir, gerakannya belum berdifensiasi,
selanjutnya baru berkembang menjadi pola dengan kecenderungan kiri atau kanan.
Hampir setiap orang mempunyai sisi yang dominan. Pada umunya orang lebih biasa
menggunakan tangan kanan (dominasi belahan otak kiri), tetapi ada sebagian
orang kidal (dominan otak kanan). Terdapat “dichotomia” yang membagi fungsi
mentala menjadi fungsi belahan otak kanan dan belahan otak kiri. Kreativitas
memiliki ketergantungan yang sangat terhadap otak.
KEBERBAKATAN DAN KREATIVITAS
PENDAHULUAN
Bakat adalah anugrah
yang tidak boleh disia – siakan dan harus dikembangkan secara maksimal. Setiap
manusia terlahir dengan memiliki bakat tertentu. Bakat adalah sesuatu yang
sudah dimiliki secara alamiah, yang mutlak memerlukan latihan untuk
membangkitkan dan mengembangkannya Seperti halnya bakat, kreativitas yang
dimiliki oleh seseorang juga anugrah yang harus dipergunakan secara tepat
sasaran.
Kreativitas, disamping bermakna
baik untuk pengembangan diri maupun untuk pembangunan masyarakat , juga
merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia. Kreativitas erat kaitannya dengan
kehidupan manusia. Kreativitas selalu berada dibelakang sebuah penemuan besar.
Kreativitas dan bakat
sangat dibutuhkan individu untuk bisa melewati seleksi alam. Perpaduan keduanya
juga sangat diperlukan untuk menghasilkan produk kreativitas yang bermanfaat.
Maka dari itu, kami sebagai penyusun makalah berinisiatif membuat karya yaitu
suatu permainan yang kami beri nama brain & brawn the tactical game yang
berhubungan erat dengan psikologis seseorang dalam menyelesaikan masalah yang
mereka hadapi sekaligus memberikan hiburan yang ikut melakukan permainan
tersebut maupun yang tidak ikut disamping itu, permainan tersebut dirancang
dengan menggunakan efek-efek yang tentunya berkaitan dengan mood seseorang
misalnya warna, dan bentuk dari suatu bangun ruang.
A.
Pengertian Keberbakatan
Apa yang dimaksud “
keberbakatan” dan “ anak berbakat”? Dalam kepustakaan yang ditemukan berbagai
istilah dan definisi mengenai anak berbakat dan keberbakatan. Istilah ini yang
menunjukkan suatu perkembangan dari pendekatan “uni-dimensional” (
seperti definisi dari Terman yang menggunakan inteligensi sebagai criteria
tunggal untuk mengidentifikasi anak berbakat, yaitu IQ 140) ke pendekatan “ multi-dimensional “.
Pendekatan ini yang mengakui keragaman konsep dan kriteria keberbakatan, yaitu
memerlukan cara – cara dan alat – alat yang berbeda – beda pula untuk
mengidentifikasinya.
Kemampuan – kemampuan
keberbakatan tersebut, baik secara potensional maupun yang telah nyata,
meliputi :
A. Kemampuan
intelektual umum.
B. Kemampuan
akademik khusus.
C. Kemampuan
berpikir kreatif – produktif.
D. Kemampuan
memimpin.
E. Kemampuan
dalam salah satu bidang seni.
F. Kemampuan
psikomotor ( seperti dalam olahraga).
B.
Pengertian kreativitas
Salah satu masalah yang
kritis dalam meneliti, mengidentifikasi, dan mengembangkan kreativitas ialah
bahwa ada begitu banyak definisi tentang kreativitas, tetapi tidak ada satu
definisi pun yang dapat diterima secara universal. Mengingat kompleksitas dari konsep
kreativitas, agaknya hal ini tidak mungkin dan tidak perlu, karena kreativitas
dapat ditinjau dari berbagai aspek, yang kendatipun saling berkaitan tetapi
penekanannya berbeda – beda. Rodhes (1961, dalam Isaksen, 1987) dalam
menganalisis lebih dari 40 definisi tentang kreativitas, menyimpulkan bahwa
pada umumnya kreativitas dirumuskan dalam istilah pribadi
(person),proses, dan produk.
C.
HUBUNGAN ANTARA KREATIVITAS DAN KEBERBAKATAN
Konsepsi “ Three-Ring Conception” dari
Renzulli dan kawan – kawan ( 1981), yang menyatakan bahwa tiga ciri pokok yang
merupakan kriteria ( persyaratan) keberbakatan ialah keterkaitan antara :
1. Kemampuan
umum di atas rata – rata,
2. Kreativitas
di atas rata – rata, dan
3. Pengikatan
diri terhadap tugas ( task commitment cukup tinggi)
Kemampuan diatas rata – rata
Salah satu kesalahan dalam
identifikasi anak berbakat ialah anggapan bahwa hanya kecerdasan dan kecakapan
sebagaimana diukur dengan tes prestasi belajar yang menentukan keberbakatan dan
produktivitas kreatif seseorang. Bahkan Terman ( 1959) yang dalam penelitiannya
terhadap anak berbakat hanya menggunakan kriteria inteligen, dalam tulisan –
tulisannya kemudian mengakui bahwa inteligensi tinggi tidak sinonim dengan
keberbakatan. Wallach ( 1976 ) pun menunjukkan bahwa mencapai skor tertinggi
pada tes akademis belum tentu mencerminkan potensi untuk kinerja kreatif
produktif.
Dalam istilah “ kemampuan umum”
tercakup barbagai bidang kemampuan yang biasanya diukur oleh tes inteligensi,
prestasi, bakat, kemampuan, mental primer, dan berpikir kreatif. Sebagai contoh
adalah penalaran, verbal numerical, kemampuan spasial, kelancaran dalam
memberikan ide, dan orisinalitas. Kemampuan umum ini merupakan salah atu
kelompok keberbakatan di samping kreativitas dan “task – commitment”.
Kreativitas diatas rata -rata
Kelompok ( cluster) kedua yang
dimiliki anak / orang berbakat ialah kreativitas sebagai kemampuan umum untuk
menciptakan sesuatu yang baru, sebagai kemampuan memberikan gagasan – gagasan
baru yang dapat diterapkan dalam pemecahan masalah, atau sebagai kemampuan
untuk melihat hubungan – hubungan baru antara unsur – unsur yang
sudah ada sebelumnya.
Pengikatan diri terhadap tugas
Kelompok karakteristik yang ketiga
yang ditemukan pada individu yang kreatif produktif ialah pengikatan diri
terhadap tugas sebagai bentuk motivasi yang internal yang mendorong seseorang
untuk tekun dan ulet mengerjakan tugasnya, meskipun mengalami macam – macam
rintangan atau hambatan, menyelesaikan tugas yang menjadi tanggung jawabnya,
karena ia telah mengikatkan diri terhadap tugas tersebut atas kehendaknya
sendiri.
Galton meskipun menganut pandangan
dasar genetis untuk keberbakatan dan “ genius “, namun dia percaya bahwa
motivasi intrinsic dan kapasitas untuk bekerja keras merupakan kondisi yang
perlu untuk mencapai prestasi unggul.
Manfaat dari definisi Renzulli ialah
melihat keterkaitan antara tiga kelompok ciri sebagai persyaratan keberbakatan:
kemampuan umum, kreativitas, dan motivasi ( pengikatan diri terhadap tugas).
Jadi, menurut definisi Renzulli,
seseorang yang memiliki kreativitas pasti berbakat, tetapi seseorang yang
berbakat belum tentu memiliki kreativitas.
DAFTAR PUSTAKA
·
Craft, Anna.
2000. Membangun Kreativitas Anak. Depok: Inisiasi Press.
·
Munandar,
Utami. 2009. Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Jakarta:
Rineka Cipta.
·
Muhandar,
Utami. 1977. Creativity and Education. Jakarta:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
·
Pengembangan Kreativitas oleh DRS.A.M. Heru Basuki, M.Psi.
·
Rogers, C.
1982. “Towards a Theory of Creativity.” Dalam P.E Vernon
(Ed.), Creativity. Middlesex: Penguin Books.
·
http://unaisatuzzahro.blogspot.com/2011/11/makalah-psikologi-kreativitas.html