Jumat, 15 Mei 2015

TUGAS SOFTSKILL MINGGU KE 3


BELAJAR DAN MENGAJAR KREATIF
Belajar dan mengajar itulah proses yang dilakukan dalam dunia pendidikan. Hal ini bisa diuraikan menjadi 2 aspek:
1.      Belajar
Berarti hal ini ditujukan untuk kepada siswa. Karena subjek yang melakukan belajar adalah siswa/murid/mahasiswa. Belajar memang kegiatan yang dilakukan tanpa mengenal tepat, orang, ataupun waktu. Maka ada istilah belajar bisa dimana saja, oleh siapa saja, dan kapan saja. Jadi belajar sebenarnya tidak bisa diartikan secara sempit hanya untuk murid atau siswa atau mahasiswa saja.
2.      Mengajar
Berarti kata ‘mengajar’ mengarah kepada sosok pengajar, yaitu guru/dosen. Orang yang dipercaya untuk bisa ‘memberi pelajaran’ kepada muridnya, membagikan ilmu yang didapat kepada anak didiknya. Inilah tugas mulia dari para pengajar, yang harus diakui bahwa ini tidaklah mudah.

1.      ARTI BELAJAR KREATIF
A.    Pengertian Belajar Kreatif
Kreativitas belajar terdiri dari dua kata yaitu kreativitas dan belajar, dalam pengertian kreativitas beberapa ahli berpendapat dengan berdasarkan latar belakang dan kebudayaan yang berbeda-beda,diantaranya sebagai berikut : James R. Evans mendefinisikan kreativitas sebagai ketrampilan untuk menentukan pertalian baru, melihat subyek dari perspektif baru dan membentuk kombinasi-kombinasi baru dari dua atau lebih konsep yang telah tercetak dalam pikiran.
1)      Kreativitas memerlukan adanya modal, yaitu konsep dalam pikiran untuk dilahirkan kembali dalam bentuk yang berbeda. Dalam pemecahan masalah, dia tidak harus mencari jawaban baru tetapi dia hanya perlu menggali informasi-informasi dalam pikirannya untuk dikaitkan dan dituangkan dalam bentuk solusi terhadap problem tersebut. Sedangkan Rogers menekankan bahwa sumber dari kreativitas adalah kecenderungan untuk mengaktualisasikan diri, mewujudkan potensi, dorongan untuk berkembang, dan menjadi matang, kecenderungan untuk mengekspresikan dan mengaktifkan semua kemampuan organisme.
2)      Kreativitas dapat dinilai ketika hal tersebut tertuang dalam suatu tindakan nyata, ketika pemikiran baru belum dituangkan, maka itu adalah proses menuju kreativitas. Jadi, kreativitas tetaplah berpusat di otak manusia, kreativitas terjadi karena keseluruhan bagian otak bekerja secara bersamaan, terpadu pada satu waktu tertentu dengan tetap melakukan spesialisasi masing-masing, otak dengan sigap menanggapi setiap informasi yang masuk. Kadar pengelolaan otak akan sangat menentukan tingkat kreativitas seseorang, karena itu otak harus dilatih, tidak hanya dengan makanan bergizi tapi dengan latihan berfikir yang terus-menerus.
3)      Untuk dapatmelahirkan kreativitas, seseorang harus dapat memanfaatkan kedua sifat otak (kiri dan kreativitas kanan). Otak kiri yang bersifat logika, berurutan, lisan, pertambahan, dan dominan. Sedangkan otak kanan bersifat emosi, lompatan, visual, menyeluruh, dan tersembunyi. Akhir-akhir ini, istilah otak kanan telah digunakan sebagai cara popular untuk menyatakan kreatif, artistik, dan rapi. Kreativitas muncul dari interaksi yang luar biasa antara kedua otak.Kreativitas adalah suatu ketrampilan.
4)      Dikarenakan kreativitas merupakan hasil sebuah latihan maka harus diupayakan secara terus- menerus agar tidak menjadi lumpuh. Artinya, siapa saja yang berniat untuk menjadi kreatif dan ia mau melakukan latihan-latihan yang benar, maka ia akan menjadi kreatif.
Dari pengertian-pengerian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa kreatif adalah hasil sebuah latihan yang unik, berbeda, dan lebih baik serta bermanfaat. Sedangkan belajar diartikan sebagai suatu proses usaha yangdilakukan individu untuk memperoleh tingkah laku baru secarakeseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksidengan lingkungan.
Jadi, kreativitas belajar adalah suatu keterampilan yang dihasilkandari sebuah latihan- latihan (proses pembelajaran) yang diupayakan terus menerus agar tidak menjadi lumpuh.
B.     Proses Belajar Kreatif
Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh seorang guru yang professional dalam menyusun program pembelajaran yang dapat meningkatkan  kreativitas siswa dalam belajar yaitu:
a.         Menciptakan lingkungan di dalam kelas yang merangsang belajar kreatif
ü  Memberikan Pemanasan
Sebelum memulai dengan kegiatan yang menuntut prilaku kreatif siswa sesuai dengan rencana pelajaran lebih dahulu diusahakan sikap menerima (reseptif) di Kalangan siswa, terutama berlaku apabila siswa sebelumnya baru saja terlibat dalam suatu penguasaan yang berstruktur, mengerjakan soal fiqih, tugas atau kegiatan, bertujuan meningkatkan pemikiran kreatif menuntut sikap belajar yang berbeda lebih terbuka dan tertantang berperanserta secara aktif dengan memberikan gagasan-gagasan sebanyak mungkin untuk itu diberikan  pemanasan yang dapat tercapai dengan memberikan pertanyaan pertanyaan terbuka dengan menimbulkan minat dan rasa ingin tahu siswa.
ü  Pengaturan Fisik
Membagi siswa dalam kelompok untuk mengadakan diskusi kelompok.
ü  Kesibukan Dalam Kelak
kegiatan belajar secara kreatif sering menuntut lebih banyak kegiatan fisik, dan diskusi antara siswa oleh karena itu guru hendaknya agak tenggang rasa dan luwes dalam menuntut ketenangan dan sebagai siswa tetap duduk pada tempatnya. Guru harus dapat membedakan kesibukan yang asyik sert suara-suara yang produktif yang menunjukkan bahwa siswa bersibuk diri secara kreatif.
ü  Guru sebagai Fasilitator
Guru dan anak yang berbakat lebih berperan sebagai fasilitator dari pada sebagai pengarah yangmenentukan segalagalanya baigsiswa. Sebagai fasilitator gurumendorong siswa (memotivator) untuk menggabungkan inisiatif dalam menjajaki tugas-tugas baru. Guru harus terbuka menerima gagasa dari semua siswa dan gur harus dapat menghilangkan ketakutan, kecemasan siswa yang dapt menghambat dan pemecahan masalah secara keatif (Munandar, 1992 : 78-81).
b.         Mengajukan dan mengundang pertanyaan
Dalam proses belajar mengjar, diperlukan keterampilan guru baik dalam mengajukan pertanyaan kepada siswa maupun dalam mengundang siswa untuk bertanya.
ü  Tehnik Bertanya
Pertanyaan yang merangsang pemikiran kreatif adalah pertanyaan semacam divergen atau terbuka. Pertanyaan semacam ini membantu siswa mengembangkan keterampilan mengumpulkan fakta, merumuskan hipotesis, dan menguji atau menilai informasi mereka.
Dengan mengajukan pertanyaan, guru memperoleh informasi yang berharga dan berguna untuk :
·         Menimbulkan minat dan motivasi siswa untuk berperan serta aktif.
·         Menilai persiapansiswa ddan sejauh mana siswa telah menguasai bahan yang diberikan sebelumnya.
·         Mengulang kembali dan meringkas apa yang telah diajarkan.
·         Membantu siswa melihat hubungan-hubungan baru.
·         Merangsang pemikiran kritis dan pengembangan sikap bertanya
·         Merangsang siswa untuk mencari sendiri pengetahuan tambahan
·         Menilai pencapaian tujuan dan sasaran belajar (Munandar, 1999 : 84)
o   Metode Diskusi
Dalam metode dikusi, peran guru dangat menentukan keberhasilan, guru berperan sebagai pasilitator yang mengenalkan masalah kepada siwa dan memberikan informasi seperlunya yang mereka butuhkan unutk membahas masalah. Guru memang diperlukan misalnya jika timbul kemacetan dalam diskusi atau untuk menghindari kesalahan yang tersembunyi agar siswa tidak terlalu menyimpang dari arah yang dituju.
o   Metode Inquiri-Discovery
Pendekatan inquiry (pengajuan pertanyaan, penyelidikan) dan discovery (penemuan) dalam belajar penting dalam proses pemecahan masalah. Ada tiga tahap dalam proses pemecahan masalah melalui inquiry, pertama adanya kesadaran bahwa ada masalah. Hal ini merupakan factor yang memotivasi siswa untuk melanjutkan dengan merumuskan  masalah (tahap kedua), pada tahap ini masalah dirumuskan dan timbul gagasan-gagasan sebagai strategi kemungkinan pemecahan. Melalui inquiry informasi mengenai masalah dihimpun. Tahap ketiga adalah mencari atau  menjajaki (searching). Pada tahap pertanyaan dan informasi dihubungkan dengan perumusan hipotesis.
Keativitas berkaitan erat dengan proses perumusan hipotesis, yaitu dalam mengajukan pertnayaan dan hipotesis dalam mneghubungakan fakta yang diketahui dan asas-asas untuk mengembangkan strategi pemecahan, serta harus memperinci dan merumuskan kebutuhan dalammencari informasi, jadi, semua proses berfikir : kelancaran, keluwesan (fluksibilitas), orisinilitas, dan pemerincian (elaborasi) temasuk dalam prosess pemecahan masalah melalui inquiry-discovery. Pokok-pokok yang harus dipenuhi oleh guru dalam pengalaman belajar inquiry adalah :
·         Berilah pengalaman permulaan untuk menarik minat siswa agar menanyakan mengenai suatu masalah, konsep, situasi atau gagasan, antara laindenganpenggunaan media, bermain peran dan demonstrasi.
·         Berilah siswa materi pelajaran dan situasi yang memungkinkan penyelidikan (ekspolorasi)
·         Sediakan sumber-sumber informasi dengan memanfaatkan sumber-sumber yang ada di masyarakat.
·         Sediakan peralatan untuk merangsang siswa melakukan eksperimen (percobaan).
·         Sediakan waktu untuk berdiskusi, bereksperimen, mencoba-coba dan sebagainya.
·         Berilah bimbingan dan perhargaan terhadap pemecahan yang dapat diterima dan terhadap strategi pemecahan.
·         Berilah dorongan dan penghargaan terhadap pemecahan yang dapat diterima dan terhadap strategi pemecahan (Munandar, 1999 : 86).
o   Mengajukan pertanyaan yang menantang (provokatif)
Salah satu cara untuk merangsang daya pikir kreatif adalah dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menantang (provokatif) antara lain dengan menanyakan apa kemungkinan-kemungkinan akibat apabila suatu kejadian yang telah terjadi, atau dengan menanyakan suatu kejadian yang telah terjadi, atau dengan menanyakan kemungkinan-kemungnkinan akibat dari suatu situasi yang memang belum pernah terjadi, tetapi siswa harus membayangkan apa saja kemungkinan-kemungnkinan akibatnya andaikan kejadian atau situasi itu terjadi di sini.
c.       Memadukan perkembangan kognitif (berfikir), afektif (sikap) dan Psikomotorik (perasaan). 
Dalam rangka membangun manusia seutuhnya perlu ada keseimbanganaantara semua aspek perkembangan yaitu perkembangan  mental intelektual, perkembangan social, perkembanan emosi (kehidupan perasaan) dan perkembangan moral.
a.    Ciri-ciri kemampuan berfikir kreatif (aptitude)
o   Keterampilan berfikir lancar
o   Keterampilan berfikir luwes
o   Keterampilan berfikir orisinal
o   Keterampilan memperinci
o   Keterampilan menilai
b.    Ciri-ciri efektif (nonaptitude)
o   Rasa ingin tahu
o   Bersifat imajinatif
o   Merasa tergantung oleh kemajemukan
o   Sifat berani mengambil resiko
o   Sifat menghargai (Munandar, 1999 : 88-93).
d.      Menggabung pemikiran divergen dan pemikiran konvergen
Pemikiran konvergen yang menuntut siswa mencari jawaban tunggal yang paling tepat berdasarkan informasi yang diberikan sudah tidak asing bagi siswa-siswa sekolah dasar. Pemikiran divergen atau pemikiran kreatif sebaiknya menuntut siswa mencari sebanyak mungkin jawaban terhadap suatu persoalan.
e.       Menggabung proses berfikir dengan proses efektif
Contoh :
ü  Berfikir lancar, gabung dengan rasa ingin tahu siswa yang rasa ingi tahunya kuat akan dapat menghasilkan gagasan-gagasan atau cara pemecahan masalah
ü  Orisinalitas dalam berfikir akan paling berhasil jika siswa tidak ragu-ragu dan berani mengamukakan pendapat yang berbeda dari biasanya dikemukakan siswa-siswa lain.
Tehnik-tehnik relajar kreatif dijelaskan sebagai berikut:
a)      Pemikiran dan perasaan terbuka
Cara yang paling sederhana untuk merangsang pemikiran kreatif ialah dengan mengajukan pertanyaan yang memberikan kesempayan timbulnya berbagai macam jawaban sebagai ungkapan pikiran dan perasaan serta dengan membantu siswa mengajukan pertnayaan. Contoh-kegiatan pemikiran dan perasaaan terbuka
o   Menyelesaikan sesuatu yang telah dimulai
o   Mencari penggunaan baru dari benda sehari-hari
o   Meningkatkan atau memperbaiki suaut produk atau benda (Munandar, 1999 : 100-1003).
b)     Sumbang Saran
Tehnik yang dikembangkan oleh Osborn ini dapat diterapak unutk memecahkansuaut masalah dalam kelompok kecil (Sekitas 8-10 orang) dengan “menggali” gagasan-gagasan sebanyak mungkin dari anggota kelompok. Hal-hal yang pelru diperhatikan meliputi :
1.      Kebebasan dalam memberikan gagasan
2.      Penekanan pada kuantitas
3.      Kritik ditangguhkan
4.      Kombinsi dan peningkatan gagasan
5.      Mengulangi gagasan (Munandar, 1999 : 104).
c)      Daftar pertanyaan yang memacu gagasan
Tehnik ini bertujuan melancarkan arus pencetusan gagasan dalam pemecahan masalah seperti mengembangkan, meningkatkan, dan memperbaiki suatu subyek atau situasi.dengan meninjau daftar pertanyaan yang membantu melihat hubungan-hubungan baru.
d)     Menyimak sifat benda atau keadaan
Tehnik ini digunakan untuk mengubah gagasan guna meningkatkan atau memperbaiki suatu subyek atau situasi. Pertama-tama semua atribut (sifat) dari suatu subyek atau situasi dicatat, kemudian masing-masing ciri ditinjau satu persatu untuk mempertimbangkan kemungkinan mengubah atau memperbaiki obyek atau situasi tersebut.
e)      Hubungan yang dipaksakan
Tehnik lain untuk merangsang gagasan-gagasan kreatif ialah dengan cara “memaksakan” suatu hubungan antara objek atau situasi yangn dimasalahkan dengan unsure-unsur lain untuk menimbulkan gagasan-gagsan baru. Maksud dari “memaksakan hubungan” ialah agar kita dapat melepskan diri dari hubungan-hubungan yang lazim atau yang sudah mejadi tradisi (kebiasan) untuk menjajaki kemungkinan-kemungkinan baru.
f)       Pendekatan Morfologis
Pada tehnik pendekatan atau analisis morfologis kita berusaha memecahkan suatu masalah atau memperoleh ide-ide baru dengan cara mengkaji dengan cermat bentuk struktur masalah. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut :
1.      Kita mulai dengan menentukan komponen-komponen dasar dari masalah atau situasi
2.      Dari setiapkomponen kita tetapkan sifatnya
3.      Dengan meninjau setiap kemungkinan kombinasi, dari sifat-sifat setiap komponen kita mendapatkan gagasan baru  dan kombinasi baru (Munandar, 1999 : 109).
g)      Pemecahan masalah secara kreatif
parners, Noller dan Biondi (1971) dalam Munandar (1999:110-111) menajukan suatu model pemecahan masalah secara kreatif (PMK) meliputi:
1.      Tahap mengumpulkan fakta
2.      Tahap menemukan masalah
3.      Tahap menemukan gagasan
4.      Tahan mnemukan jawaban
5.      Tahap menemukan penerimaan

C.   Mengapa belajar kreatif itu penting

Refinger (1980 : 9-13) dalam Conny Semawan (1990:37-38) memberikan empat alasan mengapa belajar kreatif itu penting.
1.      Belajar kreatif membantu anak menjadi berhasil guna jika kita tidak bersama mereka. Belajar kreatif adalah aspek penting dalam upaya kita membantu siswa agar mereka lebihmampu menangani dan mengarahkan belajar bagi mereka sendiri.
2.      Belajar kreatif menciptakan kemungkinan-kemungkinan untuk memecahkan masalah-masalah yang tidak mampu kita ramalkan yang timbul di masa depan.
3.      Belajar kreatif dapat menimbulkan akibat yang besar dalam kehiduppan kita. Banyak pengalamankreatif yang lebih dari pada sekedar hobi atau hiburan bagi kita. Kita makin menyadari bahwa belajar kreatif dapat mempengaruhi, bahkan mengubah karir dan kehidupan pribadi kita.
4.      Belajar kreatif dapat menimbulkan kepuasan dan kesenangan yang besar.


D.   Tiga tingkat belajar kreatif (model triffinger)
Dalam pembelajaran kretaif, terdapat teknik-teknik tertentu yang penggunaanya harus disesuaikan dengan fungsi dan tahap pembelajaran. Metode dan teknik kreatif berikut mengacu kepada model pembelajaran kreatif dari Treffinger (1980) . Model untuk mendorong belajar kreatif dari Treffinger ini terdiri dari tiga tingkat atau tahap belajar kreatif, yaitu :
a)      Tingkat I, adalah Basic Tools, yaitu tehnik-tehnik kreativitas tingkat I yang meliputi ketrampilan divergen dan tehnik-tehnik kreatif. Ketrampilan dan tehnik-tehnik ini mengembangkan kelancaran dan kelenturan berfikir serta kesediaan mengungkapkan pemikiran kreatif kepada orang lain.
b)      Tingkat II, adalah  Practice With Process, yaitu tehnik kreativitas tingkat II yang memberi kesempatan kepada siswa untuk menerapkan ketrampilan yang dipelajari pada tingkat I dalam situasi praktis.Pada tingkat ini, faktor-faktor pengenalan (kognitif) dan afektif dari tingkat I diperluas dan diterapkan. Segi pengenalan dari tingkat II ini meliputi penerapan, analisis, sintesis dan penilaian. Segi afektif pada tingkat II mencakup keterbukaan terhadap perasaan-perasaan dan konflik yang majemuk, mengarahkan perhatian kepada masalah, penggunaan khayalan dan Untuk tujuan ini digunakan strategi seperti menggunakan metode sosiodrama, simulasi, dan studi kasus. Kemahiran dalam berfikir kreatif menuntut siswa memiliki ketrampilan untuk melakukan fungsi-fungsi seperti analisis, evaluasi, imajinasi, dan fantasi.
c)      Tingkat III, adalah Working With Real Problems, yaitu tehnik-tehnik  kreatif tingkat III yang menerapkan ketrampilan yang dipelajari pada dua tingkat pertama terhadap tantangan dunia nyata. Dalam ranah pengenalan kognitif), hal ini berarti keterlibatan dalam mengajukan pertanyaanpertanyaan mandiri dan yang diarahkan sendiri-sendiri. Belajar kreatif siswa mengarah pada identifikasi tantangan-tantangan atau masalah-masalah yang berarti, pengajuan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan masalahmasalah tersebut, dan pengelolaan  sumber-sumber yang mengarah pada perkembangan hasil atau produk. Dalam ranah afektif, tingkat III mencakup internalisasi (pemribadian) nilai-nilai  dan sistem nilai, keterikatan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang produktif, dan upaya untuk mencari pengungkapan (aktualisasi) diri dalam hidup.

2.      MENGAJAR KREATIF.
a.      Pengertian
Definisi mengajar adalah memberikan petunjuk yang sebenarnya kepada orang lain (Hoetomo,MA,1999) sedangkan Kreativitas Menurut Jamridafrizal.S.A.g.S.S.M.Hum (2010) Kreativitas ialah kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa gaya hidup, gagasan, proses maupun karya nyata yang relatif berbeda dengan yang telah ada sebelumnya. sedangkang menurut Fuad Anshori ( " Mengembangkan kreativitas dalam perspektif psikologi islam".Yogyakarta:Menara kudus, 2002, h.33 18) Kreativitas meliputi baik ciri-ciri kognitif (aptitude) seperti kelancaran, keluwesan (fleksibilitas), dan keaslian (orisinalitas). Jadi mengajar kreatif adalah memberikan petunjuk yang sebenarnya kepada orang lain dengan cara yang berbeda dari sebelumnya berupa cara cara unik.

b.      Teknik Mengajar Kreatif

1)      Melakukan Pemanasan
Cara yang paling sederhana untuk merangsang pemikiran kreatif ialah dengan mengajukan pertanyaan yang memberikan kesempayan timbulnya berbagai macam jawaban sebagai ungkapan pikiran dan perasaan serta dengan membantu siswa mengajukan pertnayaan. Contoh-kegiatan pemikiran dan perasaaan terbuka
1.      Menyelesaikan sesuatu yang telah dimulai
2.      Mencari penggunaan baru dari benda sehari-hari
3.      Meningkatkan atau memperbaiki suaut produk atau benda
(Munandar, 1999 : 100-1003).
2)      Pemikiran & Perasaan Terbuka
Teknik pemikiran dan perasaan berahir ini pada intinya ingin mengupayakan agar pembelajar terdorong memunculkan perilaku divergen. Perilaku ini dapat dirangsang dengan cara mengajukan pertayaan yang memungkinkan pembelajar mengungkapkan segala peraaan dan pikiran sebagai jawaban.

3.      STRATEGI BELAJAR KREATIF
Pembelajaran kreatif menekankan pada pengembangan kreatifitas, baik pengembangan kemampuan imajinasi dan daya cipta (mengarang, membuat kerajinan tangan, mempraktekkan kesenian dll) maupun pengembangan kemampuan berpikir kreatif. Pembelajaran di SD/MI pada umumnya masih mengupayakan pengembangan kemampuan berpikir rasional logis. Dalam hal ini, guru sebagai fasilitator dituntut untuk senantiasa kreatif dalam merancang pembelajaran, serta memiliki beragam strategi pembelajaran yang digunakan agar pembelajaran tersebut memenuhi beragam tingkat kemampuan siswa di kelas. Pengetahuan siswa yang diperoleh dalam hal ini berdasarkan pengalamannya sendiri, bukan ditransfer pengetahuan dari guru.

4.      MENGANALISA SARAN-SARAN TAMBAHAN DALAM MEMUPUK IKLIM BELAJAR KREATIF
1)      Memberikan kesempatan kepada siswa untuk memahami konsep- konsep dengan cara menyelesaikan suatu permasalahan.
2)      Membuat siswa aktif dalam pembelajaran.
3)      Mengembangkan kemampuan berpikir siswa, karena disajikan masalah pada awal pembelajaran dan memberikan keleluasaan kepada siswa untuk mencari arah-arah penyelesaiannya sendiri.
4)      Mengembangkan kemampuan siswa untuk mendefinisikan masalah, mengumpulkan data, menganalisis data, membangun hipotesis dan percobaan untuk memecahkan suatu permasalahan.
5)      Membuat siswa dapat menerapkan pengetahuan yang sudah dimilikinya ke dalam situasi baru.

6)       

SUMBER

Basuki, A.M. Heru. Prof, Dr,Mpsi (2005). Kreativitas, Keberbakatan Intelektual, Dan
Faktor-Faktor Pendukung Dalam Pengembangannya. Jakarta : Universitas Gunadarma.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar