BELAJAR DAN MENGAJAR KREATIF
Belajar dan mengajar
itulah proses yang dilakukan dalam dunia pendidikan. Hal ini bisa diuraikan
menjadi 2 aspek:
1. Belajar
Berarti hal ini
ditujukan untuk kepada siswa. Karena subjek yang melakukan belajar adalah
siswa/murid/mahasiswa. Belajar memang kegiatan yang dilakukan tanpa mengenal
tepat, orang, ataupun waktu. Maka ada istilah belajar bisa dimana saja, oleh
siapa saja, dan kapan saja. Jadi belajar sebenarnya tidak bisa diartikan secara
sempit hanya untuk murid atau siswa atau mahasiswa saja.
2. Mengajar
Berarti kata ‘mengajar’
mengarah kepada sosok pengajar, yaitu guru/dosen. Orang yang dipercaya untuk
bisa ‘memberi pelajaran’ kepada muridnya, membagikan ilmu yang didapat kepada
anak didiknya. Inilah tugas mulia dari para pengajar, yang harus diakui bahwa
ini tidaklah mudah.
1.
ARTI
BELAJAR KREATIF
A.
Pengertian
Belajar Kreatif
Kreativitas belajar terdiri dari dua kata yaitu
kreativitas dan belajar, dalam pengertian kreativitas beberapa ahli berpendapat
dengan berdasarkan latar belakang dan kebudayaan yang berbeda-beda,diantaranya
sebagai berikut : James R. Evans mendefinisikan kreativitas sebagai ketrampilan
untuk menentukan pertalian baru, melihat subyek dari perspektif baru dan
membentuk kombinasi-kombinasi baru dari dua atau lebih konsep yang telah
tercetak dalam pikiran.
1)
Kreativitas memerlukan adanya modal, yaitu
konsep dalam pikiran untuk dilahirkan kembali dalam bentuk yang berbeda. Dalam
pemecahan masalah, dia tidak harus mencari jawaban baru tetapi dia hanya perlu
menggali informasi-informasi dalam pikirannya untuk dikaitkan dan dituangkan
dalam bentuk solusi terhadap problem tersebut. Sedangkan Rogers menekankan
bahwa sumber dari kreativitas adalah kecenderungan untuk mengaktualisasikan diri,
mewujudkan potensi, dorongan untuk berkembang, dan menjadi matang,
kecenderungan untuk mengekspresikan dan mengaktifkan semua kemampuan organisme.
2)
Kreativitas dapat dinilai ketika hal tersebut
tertuang dalam suatu tindakan nyata, ketika pemikiran baru belum dituangkan,
maka itu adalah proses menuju kreativitas. Jadi, kreativitas tetaplah berpusat
di otak manusia, kreativitas terjadi karena keseluruhan bagian otak bekerja
secara bersamaan, terpadu pada satu waktu tertentu dengan tetap melakukan spesialisasi
masing-masing, otak dengan sigap menanggapi setiap informasi yang masuk. Kadar
pengelolaan otak akan sangat menentukan tingkat kreativitas seseorang, karena
itu otak harus dilatih, tidak hanya dengan makanan bergizi tapi dengan latihan
berfikir yang terus-menerus.
3)
Untuk dapatmelahirkan kreativitas, seseorang
harus dapat memanfaatkan kedua sifat otak (kiri dan kreativitas kanan). Otak
kiri yang bersifat logika, berurutan, lisan, pertambahan, dan dominan.
Sedangkan otak kanan bersifat emosi, lompatan, visual, menyeluruh, dan
tersembunyi. Akhir-akhir ini, istilah otak kanan telah digunakan sebagai cara
popular untuk menyatakan kreatif, artistik, dan rapi. Kreativitas muncul dari
interaksi yang luar biasa antara kedua otak.Kreativitas adalah suatu
ketrampilan.
4)
Dikarenakan kreativitas merupakan hasil sebuah
latihan maka harus diupayakan secara terus- menerus agar tidak menjadi lumpuh. Artinya,
siapa saja yang berniat untuk menjadi kreatif dan ia mau melakukan
latihan-latihan yang benar, maka ia akan menjadi kreatif.
Dari pengertian-pengerian tersebut dapat diambil
kesimpulan bahwa kreatif adalah hasil sebuah latihan yang unik, berbeda, dan
lebih baik serta bermanfaat. Sedangkan belajar diartikan sebagai suatu proses
usaha yangdilakukan individu untuk memperoleh tingkah laku baru
secarakeseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam
interaksidengan lingkungan.
Jadi, kreativitas belajar adalah suatu
keterampilan yang dihasilkandari sebuah latihan- latihan (proses pembelajaran)
yang diupayakan terus menerus agar tidak menjadi lumpuh.
B.
Proses Belajar Kreatif
Beberapa hal yang perlu
diperhatikan oleh seorang guru yang professional dalam menyusun program
pembelajaran yang dapat meningkatkan kreativitas siswa dalam belajar
yaitu:
a.
Menciptakan lingkungan di dalam kelas yang
merangsang belajar kreatif
ü Memberikan Pemanasan
Sebelum memulai dengan
kegiatan yang menuntut prilaku kreatif siswa sesuai dengan rencana pelajaran
lebih dahulu diusahakan sikap menerima (reseptif) di Kalangan siswa, terutama
berlaku apabila siswa sebelumnya baru saja terlibat dalam suatu penguasaan yang
berstruktur, mengerjakan soal fiqih, tugas atau kegiatan, bertujuan
meningkatkan pemikiran kreatif menuntut sikap belajar yang berbeda lebih
terbuka dan tertantang berperanserta secara aktif dengan memberikan
gagasan-gagasan sebanyak mungkin untuk itu diberikan pemanasan yang dapat
tercapai dengan memberikan pertanyaan pertanyaan terbuka dengan menimbulkan
minat dan rasa ingin tahu siswa.
ü Pengaturan Fisik
Membagi siswa dalam
kelompok untuk mengadakan diskusi kelompok.
ü Kesibukan Dalam Kelak
kegiatan belajar secara
kreatif sering menuntut lebih banyak kegiatan fisik, dan diskusi antara siswa
oleh karena itu guru hendaknya agak tenggang rasa dan luwes dalam menuntut
ketenangan dan sebagai siswa tetap duduk pada tempatnya. Guru harus dapat
membedakan kesibukan yang asyik sert suara-suara yang produktif yang
menunjukkan bahwa siswa bersibuk diri secara kreatif.
ü Guru sebagai Fasilitator
Guru dan anak yang
berbakat lebih berperan sebagai fasilitator dari pada sebagai pengarah yangmenentukan
segalagalanya baigsiswa. Sebagai fasilitator gurumendorong siswa (memotivator)
untuk menggabungkan inisiatif dalam menjajaki tugas-tugas baru. Guru harus
terbuka menerima gagasa dari semua siswa dan gur harus dapat menghilangkan
ketakutan, kecemasan siswa yang dapt menghambat dan pemecahan masalah secara
keatif (Munandar, 1992 : 78-81).
b.
Mengajukan dan mengundang pertanyaan
Dalam proses belajar mengjar, diperlukan
keterampilan guru baik dalam mengajukan pertanyaan kepada siswa maupun dalam
mengundang siswa untuk bertanya.
ü Tehnik Bertanya
Pertanyaan yang
merangsang pemikiran kreatif adalah pertanyaan semacam divergen atau terbuka.
Pertanyaan semacam ini membantu siswa mengembangkan keterampilan mengumpulkan
fakta, merumuskan hipotesis, dan menguji atau menilai informasi mereka.
Dengan mengajukan
pertanyaan, guru memperoleh informasi yang berharga dan berguna untuk :
·
Menimbulkan minat dan motivasi siswa untuk
berperan serta aktif.
·
Menilai persiapansiswa ddan sejauh mana siswa
telah menguasai bahan yang diberikan sebelumnya.
·
Mengulang kembali dan meringkas apa yang telah
diajarkan.
·
Membantu siswa melihat hubungan-hubungan baru.
·
Merangsang pemikiran kritis dan pengembangan
sikap bertanya
·
Merangsang siswa untuk mencari sendiri
pengetahuan tambahan
·
Menilai pencapaian tujuan dan sasaran belajar
(Munandar, 1999 : 84)
o Metode Diskusi
Dalam metode dikusi, peran guru dangat
menentukan keberhasilan, guru berperan sebagai pasilitator yang mengenalkan
masalah kepada siwa dan memberikan informasi seperlunya yang mereka butuhkan
unutk membahas masalah. Guru memang diperlukan misalnya jika timbul kemacetan
dalam diskusi atau untuk menghindari kesalahan yang tersembunyi agar siswa
tidak terlalu menyimpang dari arah yang dituju.
o Metode Inquiri-Discovery
Pendekatan inquiry (pengajuan pertanyaan,
penyelidikan) dan discovery (penemuan) dalam belajar penting dalam proses
pemecahan masalah. Ada tiga tahap dalam proses pemecahan masalah melalui
inquiry, pertama adanya kesadaran bahwa ada masalah. Hal ini merupakan factor
yang memotivasi siswa untuk melanjutkan dengan merumuskan masalah
(tahap kedua), pada tahap ini masalah dirumuskan dan timbul gagasan-gagasan
sebagai strategi kemungkinan pemecahan. Melalui inquiry informasi mengenai
masalah dihimpun. Tahap ketiga adalah mencari atau menjajaki (searching).
Pada tahap pertanyaan dan informasi dihubungkan dengan perumusan hipotesis.
Keativitas berkaitan erat dengan proses
perumusan hipotesis, yaitu dalam mengajukan pertnayaan dan hipotesis dalam
mneghubungakan fakta yang diketahui dan asas-asas untuk mengembangkan strategi
pemecahan, serta harus memperinci dan merumuskan kebutuhan dalammencari
informasi, jadi, semua proses berfikir : kelancaran, keluwesan (fluksibilitas),
orisinilitas, dan pemerincian (elaborasi) temasuk dalam prosess pemecahan
masalah melalui inquiry-discovery. Pokok-pokok yang harus dipenuhi oleh
guru dalam pengalaman belajar inquiry adalah :
·
Berilah pengalaman permulaan untuk menarik minat
siswa agar menanyakan mengenai suatu masalah, konsep, situasi atau gagasan,
antara laindenganpenggunaan media, bermain peran dan demonstrasi.
·
Berilah siswa materi pelajaran dan situasi yang
memungkinkan penyelidikan (ekspolorasi)
·
Sediakan sumber-sumber informasi dengan
memanfaatkan sumber-sumber yang ada di masyarakat.
·
Sediakan peralatan untuk merangsang siswa melakukan
eksperimen (percobaan).
·
Sediakan waktu untuk berdiskusi, bereksperimen,
mencoba-coba dan sebagainya.
·
Berilah bimbingan dan perhargaan terhadap
pemecahan yang dapat diterima dan terhadap strategi pemecahan.
·
Berilah dorongan dan penghargaan terhadap
pemecahan yang dapat diterima dan terhadap strategi pemecahan (Munandar, 1999 :
86).
o Mengajukan pertanyaan
yang menantang (provokatif)
Salah satu cara untuk merangsang daya pikir
kreatif adalah dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menantang
(provokatif) antara lain dengan menanyakan apa kemungkinan-kemungkinan akibat
apabila suatu kejadian yang telah terjadi, atau dengan menanyakan suatu
kejadian yang telah terjadi, atau dengan menanyakan kemungkinan-kemungnkinan
akibat dari suatu situasi yang memang belum pernah terjadi, tetapi siswa harus
membayangkan apa saja kemungkinan-kemungnkinan akibatnya andaikan kejadian atau
situasi itu terjadi di sini.
c.
Memadukan perkembangan kognitif (berfikir),
afektif (sikap) dan Psikomotorik (perasaan).
Dalam rangka membangun manusia seutuhnya perlu
ada keseimbanganaantara semua aspek perkembangan yaitu perkembangan
mental intelektual, perkembangan social, perkembanan emosi (kehidupan perasaan)
dan perkembangan moral.
a. Ciri-ciri kemampuan
berfikir kreatif (aptitude)
o Keterampilan berfikir
lancar
o Keterampilan berfikir
luwes
o Keterampilan berfikir
orisinal
o Keterampilan memperinci
o Keterampilan menilai
b. Ciri-ciri efektif
(nonaptitude)
o Rasa ingin tahu
o Bersifat imajinatif
o Merasa tergantung oleh
kemajemukan
o Sifat berani mengambil
resiko
o Sifat menghargai (Munandar,
1999 : 88-93).
d.
Menggabung pemikiran divergen dan pemikiran
konvergen
Pemikiran konvergen yang menuntut siswa mencari
jawaban tunggal yang paling tepat berdasarkan informasi yang diberikan sudah
tidak asing bagi siswa-siswa sekolah dasar. Pemikiran divergen atau pemikiran
kreatif sebaiknya menuntut siswa mencari sebanyak mungkin jawaban terhadap
suatu persoalan.
e.
Menggabung proses berfikir dengan proses efektif
Contoh :
ü Berfikir lancar, gabung
dengan rasa ingin tahu siswa yang rasa ingi tahunya kuat akan dapat
menghasilkan gagasan-gagasan atau cara pemecahan masalah
ü Orisinalitas dalam
berfikir akan paling berhasil jika siswa tidak ragu-ragu dan berani
mengamukakan pendapat yang berbeda dari biasanya dikemukakan siswa-siswa lain.
Tehnik-tehnik relajar
kreatif dijelaskan sebagai berikut:
a) Pemikiran dan perasaan terbuka
Cara yang paling sederhana untuk merangsang
pemikiran kreatif ialah dengan mengajukan pertanyaan yang memberikan kesempayan
timbulnya berbagai macam jawaban sebagai ungkapan pikiran dan perasaan serta
dengan membantu siswa mengajukan pertnayaan. Contoh-kegiatan pemikiran dan
perasaaan terbuka
o Menyelesaikan sesuatu
yang telah dimulai
o Mencari penggunaan baru
dari benda sehari-hari
o Meningkatkan atau
memperbaiki suaut produk atau benda (Munandar, 1999 : 100-1003).
b) Sumbang Saran
Tehnik yang dikembangkan oleh Osborn ini dapat
diterapak unutk memecahkansuaut masalah dalam kelompok kecil (Sekitas 8-10
orang) dengan “menggali” gagasan-gagasan sebanyak mungkin dari anggota
kelompok. Hal-hal yang pelru diperhatikan meliputi :
1.
Kebebasan dalam memberikan gagasan
2.
Penekanan pada kuantitas
3.
Kritik ditangguhkan
4.
Kombinsi dan peningkatan gagasan
5.
Mengulangi gagasan (Munandar, 1999 : 104).
c) Daftar pertanyaan yang memacu gagasan
Tehnik ini bertujuan melancarkan arus pencetusan
gagasan dalam pemecahan masalah seperti mengembangkan, meningkatkan, dan
memperbaiki suatu subyek atau situasi.dengan meninjau daftar pertanyaan yang
membantu melihat hubungan-hubungan baru.
d) Menyimak sifat benda atau keadaan
Tehnik ini digunakan untuk mengubah gagasan guna
meningkatkan atau memperbaiki suatu subyek atau situasi. Pertama-tama semua
atribut (sifat) dari suatu subyek atau situasi dicatat, kemudian masing-masing
ciri ditinjau satu persatu untuk mempertimbangkan kemungkinan mengubah atau
memperbaiki obyek atau situasi tersebut.
e) Hubungan yang dipaksakan
Tehnik lain untuk merangsang gagasan-gagasan
kreatif ialah dengan cara “memaksakan” suatu hubungan antara objek atau situasi
yangn dimasalahkan dengan unsure-unsur lain untuk menimbulkan gagasan-gagsan
baru. Maksud dari “memaksakan hubungan” ialah agar kita dapat melepskan diri
dari hubungan-hubungan yang lazim atau yang sudah mejadi tradisi (kebiasan)
untuk menjajaki kemungkinan-kemungkinan baru.
f) Pendekatan Morfologis
Pada tehnik pendekatan atau analisis morfologis
kita berusaha memecahkan suatu masalah atau memperoleh ide-ide baru dengan cara
mengkaji dengan cermat bentuk struktur masalah. Langkah-langkahnya adalah
sebagai berikut :
1.
Kita mulai dengan menentukan komponen-komponen
dasar dari masalah atau situasi
2.
Dari setiapkomponen kita tetapkan sifatnya
3.
Dengan meninjau setiap kemungkinan kombinasi,
dari sifat-sifat setiap komponen kita mendapatkan gagasan baru dan
kombinasi baru (Munandar, 1999 : 109).
g) Pemecahan masalah secara kreatif
parners, Noller dan
Biondi (1971) dalam Munandar (1999:110-111) menajukan suatu model pemecahan
masalah secara kreatif (PMK) meliputi:
1.
Tahap mengumpulkan fakta
2.
Tahap menemukan masalah
3.
Tahap menemukan gagasan
4.
Tahan mnemukan jawaban
5.
Tahap menemukan penerimaan
C. Mengapa
belajar kreatif itu penting
Refinger (1980 : 9-13)
dalam Conny Semawan (1990:37-38) memberikan empat alasan mengapa belajar
kreatif itu penting.
1.
Belajar kreatif membantu anak menjadi berhasil
guna jika kita tidak bersama mereka. Belajar kreatif adalah aspek penting dalam
upaya kita membantu siswa agar mereka lebihmampu menangani dan mengarahkan
belajar bagi mereka sendiri.
2.
Belajar kreatif menciptakan
kemungkinan-kemungkinan untuk memecahkan masalah-masalah yang tidak mampu kita
ramalkan yang timbul di masa depan.
3.
Belajar kreatif dapat menimbulkan akibat yang
besar dalam kehiduppan kita. Banyak pengalamankreatif yang lebih dari pada
sekedar hobi atau hiburan bagi kita. Kita makin menyadari bahwa belajar kreatif
dapat mempengaruhi, bahkan mengubah karir dan kehidupan pribadi kita.
4.
Belajar kreatif dapat menimbulkan kepuasan dan
kesenangan yang besar.
D. Tiga
tingkat belajar kreatif (model triffinger)
Dalam pembelajaran
kretaif, terdapat teknik-teknik tertentu yang penggunaanya harus disesuaikan
dengan fungsi dan tahap pembelajaran. Metode dan teknik kreatif berikut mengacu
kepada model pembelajaran kreatif dari Treffinger (1980) . Model untuk
mendorong belajar kreatif dari Treffinger ini terdiri dari tiga tingkat atau
tahap belajar kreatif, yaitu :
a) Tingkat I, adalah Basic
Tools, yaitu tehnik-tehnik kreativitas tingkat I yang meliputi ketrampilan
divergen dan tehnik-tehnik kreatif. Ketrampilan dan tehnik-tehnik ini
mengembangkan kelancaran dan kelenturan berfikir serta kesediaan mengungkapkan
pemikiran kreatif kepada orang lain.
b) Tingkat II, adalah Practice With Process, yaitu tehnik
kreativitas tingkat II yang memberi kesempatan kepada siswa untuk menerapkan ketrampilan
yang dipelajari pada tingkat I dalam situasi praktis.Pada tingkat ini,
faktor-faktor pengenalan (kognitif) dan afektif dari tingkat I diperluas dan
diterapkan. Segi pengenalan dari tingkat II ini meliputi penerapan, analisis,
sintesis dan penilaian. Segi afektif pada tingkat II mencakup keterbukaan
terhadap perasaan-perasaan dan konflik yang majemuk, mengarahkan perhatian
kepada masalah, penggunaan khayalan dan Untuk tujuan ini digunakan strategi
seperti menggunakan metode sosiodrama, simulasi, dan studi kasus. Kemahiran
dalam berfikir kreatif menuntut siswa memiliki ketrampilan untuk melakukan
fungsi-fungsi seperti analisis, evaluasi, imajinasi, dan fantasi.
c) Tingkat III, adalah
Working With Real Problems, yaitu tehnik-tehnik
kreatif tingkat III yang menerapkan ketrampilan yang dipelajari pada dua
tingkat pertama terhadap tantangan dunia nyata. Dalam ranah pengenalan kognitif),
hal ini berarti keterlibatan dalam mengajukan pertanyaanpertanyaan mandiri dan
yang diarahkan sendiri-sendiri. Belajar kreatif siswa mengarah pada
identifikasi tantangan-tantangan atau masalah-masalah yang berarti, pengajuan
pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan masalahmasalah tersebut, dan
pengelolaan sumber-sumber yang mengarah
pada perkembangan hasil atau produk. Dalam ranah afektif, tingkat III mencakup internalisasi
(pemribadian) nilai-nilai dan sistem
nilai, keterikatan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang produktif, dan
upaya untuk mencari pengungkapan (aktualisasi) diri dalam hidup.
2. MENGAJAR KREATIF.
a.
Pengertian
Definisi mengajar adalah memberikan
petunjuk yang sebenarnya kepada orang lain (Hoetomo,MA,1999) sedangkan
Kreativitas Menurut Jamridafrizal.S.A.g.S.S.M.Hum (2010) Kreativitas
ialah kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa
gaya hidup, gagasan, proses maupun karya nyata yang relatif berbeda dengan
yang telah ada sebelumnya. sedangkang menurut Fuad Anshori ( "
Mengembangkan kreativitas dalam perspektif psikologi
islam".Yogyakarta:Menara kudus, 2002, h.33 18) Kreativitas
meliputi baik ciri-ciri kognitif (aptitude) seperti kelancaran, keluwesan
(fleksibilitas), dan keaslian (orisinalitas). Jadi mengajar kreatif adalah
memberikan petunjuk yang sebenarnya kepada orang lain dengan cara yang berbeda
dari sebelumnya berupa cara cara unik.
b.
Teknik Mengajar Kreatif
1) Melakukan Pemanasan
Cara yang paling sederhana untuk merangsang pemikiran
kreatif ialah dengan mengajukan pertanyaan yang memberikan kesempayan timbulnya
berbagai macam jawaban sebagai ungkapan pikiran dan perasaan serta dengan
membantu siswa mengajukan pertnayaan. Contoh-kegiatan pemikiran dan perasaaan
terbuka
1. Menyelesaikan sesuatu
yang telah dimulai
2. Mencari penggunaan
baru dari benda sehari-hari
3. Meningkatkan atau
memperbaiki suaut produk atau benda
(Munandar, 1999 : 100-1003).
2) Pemikiran & Perasaan Terbuka
Teknik pemikiran dan perasaan
berahir ini pada intinya ingin mengupayakan agar pembelajar terdorong
memunculkan perilaku divergen. Perilaku ini dapat dirangsang dengan cara
mengajukan pertayaan yang memungkinkan pembelajar mengungkapkan segala peraaan
dan pikiran sebagai jawaban.
3.
STRATEGI BELAJAR KREATIF
Pembelajaran kreatif menekankan pada
pengembangan kreatifitas, baik pengembangan kemampuan imajinasi dan daya cipta
(mengarang, membuat kerajinan tangan, mempraktekkan kesenian dll) maupun
pengembangan kemampuan berpikir kreatif. Pembelajaran
di SD/MI pada umumnya masih mengupayakan pengembangan kemampuan berpikir
rasional logis. Dalam hal ini, guru sebagai fasilitator dituntut untuk
senantiasa kreatif dalam merancang pembelajaran, serta memiliki beragam
strategi pembelajaran yang digunakan agar pembelajaran tersebut memenuhi
beragam tingkat kemampuan siswa di kelas. Pengetahuan siswa yang diperoleh
dalam hal ini berdasarkan pengalamannya sendiri, bukan ditransfer pengetahuan
dari guru.
4.
MENGANALISA SARAN-SARAN TAMBAHAN DALAM MEMUPUK IKLIM BELAJAR
KREATIF
1) Memberikan kesempatan kepada siswa
untuk memahami konsep- konsep dengan cara menyelesaikan suatu permasalahan.
2) Membuat siswa aktif dalam
pembelajaran.
3) Mengembangkan kemampuan berpikir
siswa, karena disajikan masalah pada awal pembelajaran dan memberikan keleluasaan
kepada siswa untuk mencari arah-arah penyelesaiannya sendiri.
4) Mengembangkan kemampuan siswa untuk
mendefinisikan masalah, mengumpulkan data, menganalisis data, membangun
hipotesis dan percobaan untuk memecahkan suatu permasalahan.
5) Membuat siswa dapat menerapkan
pengetahuan yang sudah dimilikinya ke dalam situasi baru.
6)
SUMBER
Basuki,
A.M. Heru. Prof, Dr,Mpsi (2005). Kreativitas, Keberbakatan Intelektual, Dan
Faktor-Faktor
Pendukung Dalam Pengembangannya. Jakarta : Universitas Gunadarma.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar